Rabu, 08 Oktober 2014

Pada Sebuah Perjalanan

Aku tidak pernah berpikir kita dipertemukan.  Dalam sebuah bus menuju tempat yang asing. Kita bertemu pada sebuah perjalanan yang membuat kesan pertama yang baik, kita bahasa yang seluruh dunia mengerti. Kita berbicara menggunakan sebuah alat penerjemah karena kita berasal dari belahan dunia yang berbeda. Matamu yang bermata sipit dan berkulit putih adalah identitas dari rasmu yang membuatku tidak perlu susah menebak kamu dari mana, kamu juga lansung menebakku dengan orang melayu, tetapi kamu selalu salah menebak negara asalku hingga aku sendiri yang memberi tahumu.

Kita bercerita apapun tentang tempat yang kita akan tuju walaupun diselingi dengan kebingungan berkomunikasi, tapi kita merasa itu tidak menjadi hambatan kita untuk saling berbicara, bahkan terkesan lucu karena bahasa Inggris masing-masing dari kita masih amburadul. Setelah saling berbicara dengan aneh, ternyata tempat yang kita tuju sama. Karena sama-sama membawa badan seorang diri, kita sepakat untuk melakukan perjalanan ini berdua. Aku tidak berpikir macam-macam, karena tujuan kita sama, kita juga sama-sama bingung, dan kamu, terlihat seperti orang yang baik. Kamu terlihat seperti orang yang haus akan sebuah "perjalanan" karena lelah bekerja.

Saat bus berhenti karena sesuatu, kita sepakat untuk turun bersama mencari sesuatu yang tubuh butuhkan, makanan. Kita menemukan sebuah tempat makan kecil. Aku bertanya makanan yang halal karena aku sudah pernah memakan makanan yang tidak halal karena tidak bertanya dahulu, sedangkan kamu tanpa ragu-ragu memesan.

Setelah makan, kita melanjutkan perjalanan yang tertunda sebentar. Masing-masing dari kita bercerita tentang tempat asal. Aku belum pernah ketempatmu tapi aku sedikit tahu tentang tempat asalmu karena aku suka mencari budaya baru dan hal baru di sebuah tempat yang akan aku tuju suatu hari nanti. Kamu baru sekali ke tempat asalku tetapi tidak banyak tahu, kamu bercerita ke tempatku karena kunjungan singkat.

Dalam bus, kita saling membicarakan omong kosong yang terjadi di kehidupan kita masing-masing. Ada beberapa hal yang tidak aku tidak mengerti apa yang kamu bicarakan, kemudian lelah menghampiriku. Aku memilih untuk beristirahat agar terus fit untuk sampai di tempat yang akan kita tuju. Kamu memilih untuk mendengarkan lagu dari ipodmu sambil mengabadikan pemandangan dari luar jendela lewat kamera canggih milikmu.


Dan kemudian itu masih berlanjut..

Rabu, 24 September 2014

Kerumunan Yang Bertransformasi Dengan Unik

Beberapa waktu belakangan ini, dunia semakin memperjelas efek media begitu kuat dalam kehidupan nyata. Informasi tersebar begitu cepat, mungkin mengalahkan kendaraan nabi ke surga.
  
Sekarang, kita menjadi generasi menunduk alias melihat handphone setiap saat, walaupun kita berada diantara keramaian, atau hal yang sederhana, berkumpul dengan teman, masing-masing dari kita selalu melihat handphone, kadang kita tidak memperhatikan apa yang dibicarakan teman kita saat itu, kita terlalu sibuk dengan dunia kita sendiri. Sesuatu yang awalnya memang kita genggam, tapi perlahan menggenggam seluruh hidup kita, membiarkan kita terkungkung dalam genggamannya, sesuatu yang mencuri kenikmatan udara bebas yang kita hirup setiap harinya, mencuci otak kita dengan mimpi dan fantasi serta imaji yang semu, palsu, penuh dusta dan sementara, seperti kata Tyler, “The thing you own end up owning you”.

Di zaman yang seperti ini juga, zaman yang memperoleh informasi yang begitu cepat kita dapatkan hanya dengan ujung jari kita. Semua informasi datang dalam waktu hitungan detik. Semua lansung tersedia begitu saja. Ada banyak orang yang menerima mentah-mentah tanpa menyaring informasi tersebut,  sedikit yang menyaringnya. Akhirnya, apa yang didapatkan oleh orang-orang yang menerima mentah-mentah tadi, lansung menyebarkan semaunya, tanpa ragu-ragu, tanpa memikirkan efeknya, terkadang.

Dari fenomena Florens yang menghina jogja, warga yang mengkritik walikotanya dan mungkin banyak lagi hal-hal yang tidak enak untuk dikomentari dan dibesar-besarkan. Menciptakan kerumunan di media sosial, kerumunan yang bertransformasi dengan unik.

Sepertinya,orang-orang di zaman sekarang suka dengan hal-hal yang dibesar-besarkan. Suka dengan hal yang setengah matang. Sepertinya melakukan ini sudah menjadi budaya baru. Membuktikan apa yang dikatakan Baudrillard kalau sekarang manusia menjadi makhluk layar kaca dan jaringan. Ruang privat tidak lagi menjadi rahasia, termasuk path yang awalnya diciptakan hanya untuk orang-orang terdekat saja. Sesuatu yang awalnya hanya kita bagi dengan orang-orang yang dekat, kemudian dalam waktu hitungan menit menjadi konsumsi semua orang. 

Mungkin di kemudian hari, berbicara secara lansung dan menikmati suasana hangat yang kita sebut pertemuan, adalah hal yang langka, mungkin.

Minggu, 24 Agustus 2014

SENIORITAS

Tahun ajaran baru bagi mahasiswa baru akan segera dimulai, tentu saja sebelum itu ada berbagai macam kegiatan pengenalan kampus yang diadakan untuk mengenal kampus lebih jauh, biasanya, acara ini oleh mahasiswa dan kampus untuk menyambut mahasiswa baru. Biasanya, acara semacam ini selalu saja menjadi ajang pembuktian diri para senior agar mereka terlihat hebat, terlihat garang  dan berwibawa. Meprihatinkan, begitu SBY mengungkapkan. 

Fenomena ini subur mengakar di lingkungan pendidikan dan memberika warna yang menarik untuk dibahas di dunia pendidikan. Senioritas sendiri belum ada definisinya, tetapi banyak dari kita menyimpulkan bahwa senioritas itu adalah situasi dimana terjadi pemisahan kelompok secara sosial berdasarkan angkatan (dalam kampus) di lingkup pendidikan. Yang lebih duluan masuk, otomatis melabelisasi diri sebagai senior dan baru masuk junior. Ini menjadi pola dasar situasi senioritas. 

Melihat fenomena ini saya teringat kalimat dari sosiolog Prancis yang saya paksakan pemikirannya masuk kedalam skripsi saya, Pierre Bourdieu, “..the habitus is a set of disposition which incline to ACT and REACT in CERTAIN WAYS..”. Agen atau actor dalam konteks senioritas bertindak dan bereaksi dengan cara-cara tertentu. Pernyataan tersebut bertanggung jawab, bukan karena ada sumbernya tetapi secara common sense kita mengiyakan gagasannya jika kita mengerti mengenai fenomena senioritas. Habitus sendiri adalah kecendrungan seseorang (aktor) untuk beraksi dan bereaksi dengan cara-cara tertentu. Kecendrungan inilah melahirkan praktik-praktik, perilaku, persepsi yang kemudian menjadi kebiasaan yang tidak lagi dipertanyakan aturan-aturan yang melatarbelakanginya. Apapun yang ada dalam habitus, apapun yang tercipta didalamnya, semuanya melalui proses penanaman Inculquees-Terstruktur (Structurees)-berlangsung lama (Durables)-dapat tumbuh kembang (Generatives)-dan dapat diwariskan atau dipindahkan (Transposable). Seperti senioritas ini, semua hal di dalam senioritas itu tidak begitu saja terbentuk.

Tidak semua orang suka diperlakukan secara keras, layaknya pegas, jika semakin ditarik maka pegas itu akan semakin keras, tak terlenturkan, sama seperti manusia. 

Ketika senior dikritik oleh juniornya, masih saja ada senior yang menutup diri untuk dinilai oleh orang lain, apakah itu generasi yang lebih dulu mengecap pendidikan tinggi? Mereka bisa mengkritik pemerintah tetapi mereka sulit untuk menerima kritikan.

Sikap para senior terkadang menimbulkan dampak negatif, yang menyebabkan mental junior terganggu, sehingga para junior menjadi terkekang akan ruang geraknya. Hal ini disebabkan karena keegoisan senior yang selalu ingin di hormati.

Senioritas itu di perlukan, dibutuhkan. Hanya saja harus bijaksana dalam artian senioritas seperti apa yang ditampilkan. Untuk itu perlu berpikir matang-matang dan mendalam. Tidak semuanya bisa diturunkan kepada junior , harus bijak dan berani memilah. Mana yang positif dan negatif. Sehingga, dengan begitu, yang tersisa hanya ada cinta dan kasih sayang penuh kedamainan, kebersamaan, kebahagiaan antara senior dan junior dalam kerangka sosial senioritas. 

Selasa, 19 Agustus 2014

Tentang Ujung Pandang dan Makassar.

Pernah sebuah pertanyaan muncul ketika membaca sebuah bacaan yang ditulis oleh Ulama Besar Indonesia. Mungkin sejak SD saya sudah mendengarkan kata Makasaar. Waktu itu saya tahu Makassar adalah Ibukota Sulawesi Selatan. Tetapi pernah bertemu dengan orang Sulawesi yang tinggal di luar Sulawesi bahwa dulunya Ibukota Sulsel adalah Ujung Pandang. Kenapa berbeda ya? Lalu saya googling, tapi masih ingin dengar dari orang asli sana lansung, semoga suatu hari bisa memijakkan kaki disana. 

Sejarah perubahan nama dari  Makassar ke Ujung Pandang terjadi pada tanggal 31 Agustus 1971, berdasarkan Peraturan Pemerintah No.51 Tahun 1971. Ketika itu kota Makassar di mekarkan dari 21 Km2 menjadi 115, 87 Km2. Pemekaran ini mengadopsi sebagian dari tiga wilayah kabupaten yaitu Maros, Gowa, dan Pangkep. Karena kata "Makassar" dianggap mewakili suatu etnis tertentu yaitu "Etnis Makassar", Bupati Gowa (Etnis Makassar) dan Bupati Maros (Etnis Bugis) pada waktu itu menentang keras pemekaran tersebut. Untunglah pertentangan itu bisa diredam dengan syarat kedua Bupati tersebut mau menyerahkan sebagian wilayahnya asalkan nama Makassar diganti. Maka Walikota Makassar pada waktu itu H.M Daeng Patompo (Alm) terpaksa menyetujui perubahan nama tersebut demi perluasan wilayah kota. 

"Namanya unik Ujung Pandang, asal kata Ujung Pandang itu dari mana?

Kata Ujung Pandang itu diambil dari nama Benteng yaitu Benteng Ujung Pandang (sekarang bernama Benteng Fort Rotterdam) yang didirikan pada masa pemerintahan Raja Gowa ke-X Tunipalangga (tahun 1545).  Setelah bagian luar benteng selesai, dibangunlah bangunan khas Gowa didalamnya yang terbuat dari kayu. Sementara di bagian luar benteng terbentuklah sebuah perkampungan yang semakin lama semakin ramai. Disanalah kampung Jourpandan (Juppandang) sedangkan benteng dijadikan sebagai kota kecil di tepi Pantai Losari. 
Menurut orang yang Makassar ketika saya menanyakan tentang Ujung Pandang dan Makassar, beliau menjawab Ujung Pandang sering digunakan oleh orang Bugis untuk menunjukan kota Makassar dan perubahan Ibukota itu sendiri merupakan keinginan dari masyarakat yang sudah lama dan baru tercapai pada masa Presiden BJ. Habibie tanpa proses yang berbelit-belit.

Sumber :  http://id.wikipedia.org/wiki/Ujungpandang

Selasa, 17 Juni 2014

Bukan Berinovasi Tapi Merenovasi



Pramoedya Ananta Toer memiliki cara pandang sederhana tentang korupsi, yakni itulah keadaan hasil dari kemiskinan produksi. Sebuah bangsa yang rendah produksi akan tinggi korupsi, Sedangkan Prie GS mengatakan bahwa cara termudah mencari pekerjaan di Negara rendah produksi ialah bukan dengan berproduksi, melainkan merenovasi apa saja yang sudah jadi, seperti gedung di cat ulang. 

Itulah yang terjadi di kantor Gubernur Riau. kita bisa melihatnya sendiri, pagar kantor gubernur di cat ulang berwarna putih, bahkan rumah dinas Gubernur Riau juga di cat warna putih. Saya  tidak tahu maknanya apa, tetapi ini sungguh mubazir. 
 
Mengapa menurut saya mubazir? Sederhana, catnya masih bagus. Dana dari pengecatan itu  bisa digunakan untuk hal yang lain yang lebih berguna. Tetapi pada kenyataannya para pemimpin ini hanya bisa merenovasi, bukan berinovasi. Lebih memilih membangun gedung yang tampak bagus daripada kinerja yang lebih bagus.  

Selasa, 03 September 2013

Tentang Menyontreng Atau Menyoblos

Sudah lama sekali saya tidak menulis di blog yang satu ini, mungkin terlalu sibuk sama blog sebelah.Maaf.

Besok di kota saya, Pekanbaru, akan ada pemilihan gubernur dan wakil gubernur Provinsu Riau. ada 5 pasangan yang bertarung besok. Saya tidak sempat melihat acara debat calon Gubernur dan wakilnya itu karena sedang dalam perjalanan ke lokasi KKN, di lokasi KKN juga susah akses informasi.

Saya adalah orang yang tidak pernah ikut dan tidak ambil pusing dalam pemilihan raya, umum dan apapun bentuk pemilu itu. Karena saya pikir itu percuma. Di kampus saya sudah 2 kali pemilihan raya, saya tidak pernah ikut, karena saya merasa di balik itu ada kepentingan. Setiap pasangan berasal dari organisasi eksternal yang tidak saya sukai, waktu itu. Saya memilih jika berasal dari mahasiswa yang "polos" tidak ada embel-embel di belakangnya. Waktu itu.

Pemilukada atau presiden saya juga tidak pernah ikut karena saya belum cukup umur, tetapi kalau pun ada saya juga tidak memilih, bahasa kerennya GOLPUT. Mengapa? karena saya merasa tidak etis. Kampanye juga tidak etis. Mereka tidak pernah membeli hati rakyat, hanya menjanjikan sesuatu yang palsu, bahasa anak muda yang suka galau, PHP. Mereka cuma sekedar melakukan pencitraan, membuat drama, dan berharap dipilih oleh rakyat.Wajar kan rakyat berharap sama pemimpinnya.

Memang saya tidak begitu tertarik dengan yang namanya politik, saya mulai membicarakan politik sejak saya kuliah di FISIP, di mata kuliah PIP alias Pengantar Ilmu Politik, itu pertama kalinya saya menyimak dunia perpolitikan di Indonesia. Dosen mata kuliah PIP saat itu menjelaskan fenomena politik yang terjadi di Indonesia, kebanyakan yang negatif, seperti berita korupsi dll. Sebagai mahasiswa yang masih labil pada saat itu, saya pun menjadi tidak suka dengan politik, apapun kuliah yang berbau politik, saya tidak suka, memilih untuk duduk dibelakang dan menundukkan kepala alias tidur. Mungkin karena itu nilai mata kuliah politik saya pas-pasan *kok curhat ya? maap, baru ingat ini bukan blog sebelah.
Dengan diceritakan fenomena itu, saya merasa kalau orang politik itu adalah orang jahat, orang-orang yang salah, suka ngorbanin rakyat,cuma menguntungkan mereka dan merugikan rakyat. Rakyat cuma butiran debu.

Ada saja hal yang membuat saya tidak tertarik dengan dunia politik. Ada-ada saja. Padahal politik adalah hal yang paling dekat dengan keseharian kita, kita hidup di atas keputusan-keputusan politik. Saya tidak bisa membayangkan jika pemerintah memutuskan untuk mensensor internet. Itu salah satu contohnya.

Tetapi saya semakin banyak semester di perkuliahan saya, saya mulai berpikir dan menyadari saya ini orang yang tidak peduli. Kepedulian saya dan orang-orang seperti saya membawa korban, korbannya adalah diri sendiri, masyarakat atau lebih khusus lagi rakyat Indonesia. Saya sadar, semakin saya buta politik, semakin mereka memanfaatkan kebutaan itu.

Untuk itu, saya putuskan kali ini saya akan ikut pemilukada untuk pertama kalinya, dan kebetulan juga saya baru pertama kali punya hak suara. Saya sudah baca riwayat calon-calonnya. Korupsi dilakukan oleh orang-orang tidak benar yang duduk di jabatan yang memungkinkan untuk korupsi, jangan biarkan mereka disana, pilihlah pemimpin yang benar. Tetapi siapa yang benar ? nilai dari hati dan pikiran kita. Walaupun mensinkronkannya susah, tetapi pasti bisa.Bissmillah..

Hiduplah Indonesia Raya ...

Rabu, 29 Mei 2013

Tesso Nilo National Park

Hari Jumat-Minggu lalu saya, teman-teman sosiologi 2010 Universitas Riau berada di sebuah desa yang bersana desa Lubuk Kembang Bungo, kecamatan Ukui, Pelalawan, Riau. Desa ini merupakan pintu masuk Hutan Taman Nasional Tesso Nilo dimana disini tempat dari konservasi gajah Sumatera dan Harimau Sumatera serta tumbuhan yang dilindungi.

Disini kami meneliti tentang hubungan sosial masyarakat dengan Taman Nasional Tesso Nilo. Banyak fakta yang membuat saya dan teman-teman kaget. Diantaranya masyarakat desa tersebut ada yang tidak tau dimana taman nasional, tidak pernah kesana, menginterpretasikan bahwa taman nasional itu berbentuk taman bunga, tempat bermain anak-anak. Ada lagi yang mengatakan bahwa pengelola taman nasional Tesso Nilo sendiri tidak memberikan penjelasan yang membuat masyarakat disana mengerti mengenai peraturan yang ada di taman nasional tersebut, batasan-batasan taman tersebut yang tidak boleh dijadikan lahan oleh masyarakat. Ada lagi masyarakat yang menceritakan pada waktu Menteri kehutanan mengunjungi Tesso Nilo, masyarakat tidak boleh bertanya atau memberikan aspirasi mereka dalam diskusi bersama Menteri Kehutanan dan pada saat itu juga Menteri Kehutanan memberikan janji bahwa masyarakat disana akan diberikan lahan untuk penghidupan mereka, tetapi sampai sekarang masyarakat belum mendapat lahan yang dijanjikan. Fakta lainnya yaitu, masyarakat tidak pernah membunuh gajah atau harimau, tetapi hanya kacil yang kecil untuk mereka makan, salah satu masyarakat yang kami temui, beliau mengatakan bahwa gajah yang sering masuk ke desa merupakan gajah yang sudah jinak kalau saja gajah itu liar, mereka akan takut dengan manusia. Masyarakat mengatakan bahwa kalau pengelola taman dan wwf tidak pernah mensosialisasikan bagaimana Tesso Nilo tersebut, batas-batas wilayah, mereka hanya diberikan peta oleh pihak taman dan wwf yang diberikan oleh kepada desa setempat.

Disisi lain, pihak pengelola dan wwf mengatakan hal yang berbeda. Mereka sudah mensosialisasikan kepada masyarakat. 

Menurut saya, seharusnya tidak ada yang disembunyikan oleh pihak-pihak terkait dengan Tesso Nilo. Pihak-pihak yang harus mensosialiasikan juga harus mengerti bagaimana kondisi masyarakat disana. Pemahaman mereka jauh dari apa yang kami kira mengenai Tesso Nilo.

selengkapnya



Selasa, 26 Februari 2013

Kepo Abis

Gue lagi galau milih fenomena apa yang gue angkat untuk skripsi gue, soalnya latar belakangnya harus udah selesai jumat sore besok. 
Di tengah kegalauan gue, beberapa waktu lalu, gue sempat nanya sama seorang yang dosen untuk nanyain fenomena sosial yang menarik sekarang, dan dia  ngebales. Hari ini gue penasaran sama beliau. Gue cari tahu semua tentang beliau dan sekarang ketemu, ternyata beliau seorang dosen di Nanyang Technology University konsentrasi sosial politik, orang Indonesia, alumni ITB. Sekali lagi gue terkagum sama kepintaran orang-orang Indonesia yang di pakai sama negeri lain, tapi bukan di negeri sendiri. Namanya Sulfikar Amir.