Minggu, 24 Agustus 2014

SENIORITAS

Tahun ajaran baru bagi mahasiswa baru akan segera dimulai, tentu saja sebelum itu ada berbagai macam kegiatan pengenalan kampus yang diadakan untuk mengenal kampus lebih jauh, biasanya, acara ini oleh mahasiswa dan kampus untuk menyambut mahasiswa baru. Biasanya, acara semacam ini selalu saja menjadi ajang pembuktian diri para senior agar mereka terlihat hebat, terlihat garang  dan berwibawa. Meprihatinkan, begitu SBY mengungkapkan. 

Fenomena ini subur mengakar di lingkungan pendidikan dan memberika warna yang menarik untuk dibahas di dunia pendidikan. Senioritas sendiri belum ada definisinya, tetapi banyak dari kita menyimpulkan bahwa senioritas itu adalah situasi dimana terjadi pemisahan kelompok secara sosial berdasarkan angkatan (dalam kampus) di lingkup pendidikan. Yang lebih duluan masuk, otomatis melabelisasi diri sebagai senior dan baru masuk junior. Ini menjadi pola dasar situasi senioritas. 

Melihat fenomena ini saya teringat kalimat dari sosiolog Prancis yang saya paksakan pemikirannya masuk kedalam skripsi saya, Pierre Bourdieu, “..the habitus is a set of disposition which incline to ACT and REACT in CERTAIN WAYS..”. Agen atau actor dalam konteks senioritas bertindak dan bereaksi dengan cara-cara tertentu. Pernyataan tersebut bertanggung jawab, bukan karena ada sumbernya tetapi secara common sense kita mengiyakan gagasannya jika kita mengerti mengenai fenomena senioritas. Habitus sendiri adalah kecendrungan seseorang (aktor) untuk beraksi dan bereaksi dengan cara-cara tertentu. Kecendrungan inilah melahirkan praktik-praktik, perilaku, persepsi yang kemudian menjadi kebiasaan yang tidak lagi dipertanyakan aturan-aturan yang melatarbelakanginya. Apapun yang ada dalam habitus, apapun yang tercipta didalamnya, semuanya melalui proses penanaman Inculquees-Terstruktur (Structurees)-berlangsung lama (Durables)-dapat tumbuh kembang (Generatives)-dan dapat diwariskan atau dipindahkan (Transposable). Seperti senioritas ini, semua hal di dalam senioritas itu tidak begitu saja terbentuk.

Tidak semua orang suka diperlakukan secara keras, layaknya pegas, jika semakin ditarik maka pegas itu akan semakin keras, tak terlenturkan, sama seperti manusia. 

Ketika senior dikritik oleh juniornya, masih saja ada senior yang menutup diri untuk dinilai oleh orang lain, apakah itu generasi yang lebih dulu mengecap pendidikan tinggi? Mereka bisa mengkritik pemerintah tetapi mereka sulit untuk menerima kritikan.

Sikap para senior terkadang menimbulkan dampak negatif, yang menyebabkan mental junior terganggu, sehingga para junior menjadi terkekang akan ruang geraknya. Hal ini disebabkan karena keegoisan senior yang selalu ingin di hormati.

Senioritas itu di perlukan, dibutuhkan. Hanya saja harus bijaksana dalam artian senioritas seperti apa yang ditampilkan. Untuk itu perlu berpikir matang-matang dan mendalam. Tidak semuanya bisa diturunkan kepada junior , harus bijak dan berani memilah. Mana yang positif dan negatif. Sehingga, dengan begitu, yang tersisa hanya ada cinta dan kasih sayang penuh kedamainan, kebersamaan, kebahagiaan antara senior dan junior dalam kerangka sosial senioritas. 

Selasa, 19 Agustus 2014

Tentang Ujung Pandang dan Makassar.

Pernah sebuah pertanyaan muncul ketika membaca sebuah bacaan yang ditulis oleh Ulama Besar Indonesia. Mungkin sejak SD saya sudah mendengarkan kata Makasaar. Waktu itu saya tahu Makassar adalah Ibukota Sulawesi Selatan. Tetapi pernah bertemu dengan orang Sulawesi yang tinggal di luar Sulawesi bahwa dulunya Ibukota Sulsel adalah Ujung Pandang. Kenapa berbeda ya? Lalu saya googling, tapi masih ingin dengar dari orang asli sana lansung, semoga suatu hari bisa memijakkan kaki disana. 

Sejarah perubahan nama dari  Makassar ke Ujung Pandang terjadi pada tanggal 31 Agustus 1971, berdasarkan Peraturan Pemerintah No.51 Tahun 1971. Ketika itu kota Makassar di mekarkan dari 21 Km2 menjadi 115, 87 Km2. Pemekaran ini mengadopsi sebagian dari tiga wilayah kabupaten yaitu Maros, Gowa, dan Pangkep. Karena kata "Makassar" dianggap mewakili suatu etnis tertentu yaitu "Etnis Makassar", Bupati Gowa (Etnis Makassar) dan Bupati Maros (Etnis Bugis) pada waktu itu menentang keras pemekaran tersebut. Untunglah pertentangan itu bisa diredam dengan syarat kedua Bupati tersebut mau menyerahkan sebagian wilayahnya asalkan nama Makassar diganti. Maka Walikota Makassar pada waktu itu H.M Daeng Patompo (Alm) terpaksa menyetujui perubahan nama tersebut demi perluasan wilayah kota. 

"Namanya unik Ujung Pandang, asal kata Ujung Pandang itu dari mana?

Kata Ujung Pandang itu diambil dari nama Benteng yaitu Benteng Ujung Pandang (sekarang bernama Benteng Fort Rotterdam) yang didirikan pada masa pemerintahan Raja Gowa ke-X Tunipalangga (tahun 1545).  Setelah bagian luar benteng selesai, dibangunlah bangunan khas Gowa didalamnya yang terbuat dari kayu. Sementara di bagian luar benteng terbentuklah sebuah perkampungan yang semakin lama semakin ramai. Disanalah kampung Jourpandan (Juppandang) sedangkan benteng dijadikan sebagai kota kecil di tepi Pantai Losari. 
Menurut orang yang Makassar ketika saya menanyakan tentang Ujung Pandang dan Makassar, beliau menjawab Ujung Pandang sering digunakan oleh orang Bugis untuk menunjukan kota Makassar dan perubahan Ibukota itu sendiri merupakan keinginan dari masyarakat yang sudah lama dan baru tercapai pada masa Presiden BJ. Habibie tanpa proses yang berbelit-belit.

Sumber :  http://id.wikipedia.org/wiki/Ujungpandang