Minggu, 10 Juli 2011

karena Belanda.

Gue pengen mencoba ngelakuin perubahan dari diri gue dulu,buat negeri ini,INDONESIA dengan cara gue berniat dan akan terus menulis tentang Indonesia di blog ini,gue gak mau jadi nasionalis "musiman". Gue akan terus jadi nasionalis.Pikiran gue semakin terbuka sejak acara rossy goes to campus,sebelumnya sudah terbuka juga karena gue banyak belajar dari seorang salah satu teman gue @raditisme. 

Yang gue pengen kasih tau lewat blog ini adalah tentang sejarah.Gue abis baca buku -e-learning dari @pandji .Ini ada sedikit perubahan,memakai bahasa gue sendiri.ada beberapa judul yang gue postingin setelah ini

oke.HERE GOES .

Kita sama-sama tahu bahwa sejarah itu relatif tergantung dari sudut pandang pencerita.Akhirnya, sejarah yang ada di negara manapun selalu simpang siur.Bukan hanya Indonesia,tapi nyaris setiap negara.Apa yang ditulis ini, tidak berdasarkan bukti-bukti yang pasti.Tapi toh apa yang kita baca di buku sejarah semenjak kita kecil juga tidak ada bukti yang jelas.
Contoh yang sangat nyata. Foto Thomas Matulessy atau kita kenal dengan Pattimura.Seperti apa coba Kapten Pattimura yang kita kenal ?Seperti inikah yang sering kita lihat di tembok tembok kelas kita?
Dengan berat hati saya beritahukan, bahwa lukisan di atas, dan lukisan Pattimura yang kita kenal dari buku buku pelajaran dan tembok tembok kelas adalah bukan wajah Pattimura yang sebenarnya.

Pattimura itu, tidak pernah ada dokumentasinya. Tidak ada yang tahu persis wajahnya seperti apa, sehingga dibayarlah seorang seniman untuk melukis seperti apa kira kira Pattimura.

Belakangan ada sebuah foto dokumentasi yang muncul di KTLV di Leiden, Belanda. Sebuah perpustakaan di University of Leiden, jurusan sejarah Indonesia. Foto itu menunjukkan wajah Pattimura. Kurus, Kribo, dan terborgol... dan sama sekali tidak mirip dengan lukisan diatas.

Kisah Pattimura dan lukisannya adalah salah satu contoh sederhana bagaimana sejarah Indonesia telah lama direkayasa untuk kebutuhan kebutuhan tertentu.Kadang rekayasa sejarah dilakukan dengan menceritakan yang tidak terjadi, atau yang terjadi dengan versi yang berbeda, atau bahkan tidak diceritakan sama sekali .Sekarang begini, menurut yang kita tahu, apa yang menjadikan Indonesia?

Mengapa Indonesia jadi negara seperti sekarang ini, dari Aceh sampai Papua?
Karena perjuangan kita?
Karena Sumpah Pemuda?
gue punya sudut pandang baru untuk teman-teman.
Pernahkan terpikir oleh teman-teman bahwa Indonesia jadi seperti ini JUSTRU karena Belanda.
Terpikirkah mengapa di Pulau Kalimantan kok bisa terbagi 3 negara? Malaysia, Brunnei Darusalam dan Indonesia.. Padahal ada dalam 1 pulau yang sama.Jawabannya, karena yang menjajah beda.

Kita ini produk dari yang menjajah kita.BELANDA

Waktu itu, Singapore dipegang oleh Belanda, dan Bengkulu dipegang oleh Inggris. Lalu Belanda menyadari lanskapnya akan terkesan aneh karena ditengah tengah negara jajahannya ada satu bagiannya inggris. Akhirnya Inggris dan Belanda tukeran. Belanda pegang Bengkulu dan punya area jajahan yang lebih lengkap, Inggris yang memang sudah pernah ke Singapore kembali mendapatkan area itu (dulu tentunya belum disebut Singapura)
Singapore sendiri sebenarnya memerdekakan diri dari Malaysia.

Agak mirip dengan Brunnei Darusalam. Bedanya, Brunnei negosiasi langsung kepada pihak inggris untuk menjadikannya negara yang berdiri sendiri dengan imbalan “fasilitas” kepada Inggris.

Konsep “Indonesia” oleh Bung Karno adalah semua wilayah yang dijajah Belanda. Bahkan tadinya semua wilayah kekuasaan Majapahit. Itu lebih dahsyat lagi karena Filipina juga termasuk. Bahkan, Madagaskar juga masuk!

Memang pada awal masa pergerakan kemerdekaan Indonesia, kaum nasionalis terutama Muhammad Yamin lebih memilih untuk membangun pemahaman bahwa Indonesia sudah jadi satu bangsa berkat kerajaan Majapahit. Ini jelas sering digembar gemborkan untuk menjaga harga diri sebuah bangsa yang baru bahwa Indonesia itu ada sejak Majaphit, bukan karena Belanda

Nah, wilayah yang belum masuk Indonesia waktu itu adalah Aceh, Papua, Timor Timur.
Bung Karno “mengambil” Aceh ketika datang kesana menjumpai Daud Beureuh untuk meminjam pesawat. Indonesia belum punya pesawat sendiri dan Bung Karno harus keliling-keliling saat itu, maka datanglah Bung Karno menjumpai Daud Beureruh untuk meminjam pesawat.

Bayangkan betapa kayanya Aceh saat itu.

Saat itulah Bung Karno membujuk Daud Beureuh yang sangat dihormatinya itu untuk bergabung ke Republik Indonesia. Sebuah bujukan yang akhirnya berhasil.

Belakangan, Daud Beureuh kecewa dengan hasil yang didapatkan Aceh setelah bergabung ke Indonesia. Kurang lebihnya kecewa karena tidak sesuai dengan yang dijanjikan untuknya, akhirnya beliau memimpin pemberontakan Aceh terhadap Indonesia.

Lalu Timor Timur juga waktu itu adalah jajahannya Portugis. Lalu pada satu masa, di Portugal sedang ada pemberontakan, kondisi politik di sana tidak stabil, akhirnya Portugis meninggalkan Timor Timur, menyisakan perebutan kekuasaan yang kosong antar kelompok yang ada.

Kubu yang komunis, mencemaskan Amerika Serikat dan Australia. Mereka takut dengan negara negara sosialis/komunis dan mendukung pemerintah Indonesia untuk “mencaplok”nya... Indonesia masuk ke sana dengan keras dan paksa dengan mengatasnamakan demokrasi (terdengar familiar sekali)

nanti gue posting lagi beberapa hal tentang sejarah INDONESIA

Sabtu, 09 Juli 2011

yang muda yang bergelora

Kita bangsa Indonesia,kita Putra-Putri Indonesia ,kita generasi bangsa ini. Cintailah Negeri kita sendiri,jangan pesimis dengan negara kita sendiri,karena negara ini didirikan bukan dengan kepesimisan,tapi dengan semangat yang bergelora,semangat juang yang tinggi.Kalau orang-orang tahu apa yang saya tahu tentang Indonesia, mereka juga akan optimis.Itu kata Om Pandji dalam bukunya nasional.is.me.

Sebagai anak muda,kita juga harus punya semangat yang bergelora buat membangun negeri kita ini,seperti lagu bang rhoma,"yang muda yang bergelora" .Dari hal yang kecil kita bisa lakuin buat negeri ini,berilah konstribusi terhadap negeri kita ini walaupun itu hanya secuil seperti upil. Dari yang kecil seperti upil itu,selama kita ngelakuinnya,berangsur-angsur,lama kelamaan menjadi banyak.

Berkonstibusi buat negeri ini bisa dalam banyak hal. kamu bersedekah contohnya,bisa ngebantu mereka yang kurang mampu,setidaknya kamu telah mengurangi beban negara untuk membantu mereka yang kurang mampu. Kamu bisa nulis di twitter amu tentang negeri kita ini.banyak deh.Yang jelas jangan berhenti untuk tetap bersemangat menjadi anak muda yang cinta negerinya sendiri.Tidak pesimis.Mereka yang pesimis itu hanyalah mereka yang tidak ingin tahu dengan negeri kita,INDONESIA.

Anyway,banyak hal yang bisa kita lakuin buat negeri kita ini. Cintailah negeri kita ini,kalo bukan kita,siapa lagi ?
Jangan bersikap tidak mau peduli dengan negeri sendiri. Karena disinilah kita berasal,disinilah kita menjalani kehidupan.

HIDUP MAHASISWA !!!!!!
HIDUP RAKYAT INDONESIA!!!

Senin, 04 Juli 2011

Inilah Kronologi Kasus iPad Tanpa Manual

Inilah Kronologi Kasus iPad Tanpa Manual



JAKARTA, KOMPAS.com - Gara-gara menjual iPad tanpa buku manual berbahasa Indonesia, Dian Yudha (42) dan Randy (29), ditangkap dan diadili. Penjualan itu dituduh ilegal. Polisi bersikukuh bahwa penangkapan sesuai prosedur.

Kasus itu bermula saat Dian dan Randy menawarkan dua buah iPad 3G Wi Fi 64 GB di forum jual beli situs www.kaskus.us. Tiba-tiba saja hal itu membuat polisi Polda Metro Jaya melakukan penyelidikan. Lantas, seorang polisi, Eben Patar Opsunggu, menyamar sebagai pembeli. Transaksi pun dilakukan pada 24 November 2010 di City Walk, Tanah Abang, Jakarta Pusat.

Hari itu juga dua alumni Institut Teknologi Bandung (ITB) tersebut ditangkap. Mereka kemudian ditetapkan sebagai tersangka. Keduanya didakwa melanggar Pasal 62 Ayat (1) juncto Pasal 8 Ayat (1) huruf j UU No 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen karena tidak memilild buku manual berbahasa Indonesia.

Keduanya juga dijerat dengan Pasal 52 juncto Pasal 32 Ayat (1) UU Nomor 36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi, karena iPad belum terkategori alat elektronik komunikasi resmi. Ancamannya pidana penjara paling lama 5 tahun penjara. Kasus ini masih berlangsung di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.

Kasus itu menyedot perhatian banyak pihak. Sepanjang dua hari terakhir kasus ini menjadi pembicaraan hangat, terutama di forum-forum dunia maya (internet). Banyak yang mempertanyakan karena penangkapan itu dilakukan hanya gara-gara menjual iPad tanpa buku manual berbahasa Indonesia. Padahal, Dian dan Randy cuma bermaksud menjual gadget yang dibelinya di Singapura itu.

Namun, polisi memiliki alasan sendiri. Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Baharudin Djafar, Minggu (3/7/2011) siang, menjelaskan, proses penyidikan kasus itu berawal dari beredarnya iPad di tahun 2010 yang saat itu mulai booming. Menurut Baharudin, diduga banyak iPad diperjualbelikan secara ilegal saat itu, sehingga Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Metro Jaya berinisiatif untuk mengungkap dan melihat bagaimana perdagangan iPad ilegal tersebut.

"Dengan harapan kami dapat mengungkap siapa yang mengimpor barang-barang yang tidak terdaftar itu dan siapa pelaku yang melakukan perdagangan secara ilegal ini," kata Baharudin.

Mantan Kabid Humas Polda Sumatera Utara itu mengatakan, iPad yang pertama kali beredar di Indonesia belum ada izin dari Dirjen Postel. Selain itu, belum ada manual book yang berbahasa Indonesia. Dua alasan inilah yang dijadikan sebagai dasar aparat penegak hukum untuk melakukan penangkapan terhadap Dian dan Randy.

Polisi keukeuh bahwa keduanya adalah penjual iPad ilegal. Jadi penangkapan keduanya bukan asal tangkap. Proses penyelidikan dan penyidikan diperkuat oleh saksi ahli dari pihak Direktorat Jenderal Pos Telekomunikasi dan Departemen Perdagangan.

"Karena pada saat itu (2010) aturan tentang penjualan barang ini (iPad) belum dikeluarkan oleh Dirjen Pos dan Telekomunikasi serta Departemen Perdagangan. Oleh sebab itu, sebelum dilakukan penangkapan terhadap dua tersangka, Ditreskrimsus Polda Metro Jaya telah berkoordinasi dengan Dirjen Postel dan Depdag," kata Baharudin Djafar, Minggu (3/7/2011).

Dari hasil koordinasi dengan dua instansi terkait, kata Baharudin, disebutkan bahwa penjualan barang-barang yang dimiliki Randy dan Dian, tidak mendapatkan izin dari kedua lembaga tersebut. Dengan begitu, perbuatan keduanya dinilai melanggar suatu tindak pidana dan bisa diproses sesuai ketentuan hukum yang berlaku.

Soal paspor dan faktur

Kepala Satuan Industri dan Perdagangan (Indag) Direktorat Reskrimsus Polda Metro Jaya AKBP Sandy Nugroho menjelaskan, Randy mengaku membeli iPad tersebut dari seorang sales dan mengaku beli 'putus'.

"Namun ketika kami desak siapa salesnya, dia tidak bisa tunjukkan siapa salesnya. Dia bilang, nggak kenal sama salesnya. Masak jualan banyak nggak kenal sama salesnya, kan nggak mungkin," katanya.

Setelah didesak lagi, Randy kemudian mengaku jika dirinya mendapatkan barang tersebut dari Singapura. Namun, saat diminta petugas untuk menunjukkan paspornya, Randy tidak bisa menunjukkannya. "Kami minta dia nunjukin paspor kalau dia ke Singapura, tapi dia tidak bisa menunjukkannya," ujar Sandy.

Menurut Sandy, jika barang tersebut dibawa ke Indonesia melalui udara, seharusnya Randy memberitahukan barang yang dibelinya ke pihak Bea dan Cukai. "Boleh bawa barang dari Singapura, dengan catatan tidak boleh lebih dari 500 dollar AS dan untuk dipakai sendiri, bukan untuk diperjualbelikan," kata Sandy.

Randy juga sempat diminta menunjukkan faktur pajak atas barang yang dia beli dari luar negeri, namun lagi-lagi Randy tak bisa menunjukkannya. "Kalau dia bayar bea cukai, tentu dia ada buktinya. Dan barangnya kalau mau dia jual, seharusnya dia punya faktur penjualan. Nah, sementara nggak ada," papar Sandy.

Tak hanya itu. Baharudin Djafar menambahkan bahwa Randy bukan hanya sekali ini menjual iPad. Sebelumnya dia sudah pernah menjual 12 unit komputer tablet tersebut. "Pengakuan dia, dia pernah jual 12 unit iPad secara ilegal. Pengakuan itu tertuang dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP)," katanya.

Dalam kesempatan kemarin Baharudin juga membantah telah menahan Dian dan Randy. "Sejak penangkapan, kami tidak melakukan penahanan kepada keduanya. Dia kooperatif, kemudian tidak ada indikasi melarikan diri dan mereka selalu hadir ketika diminta untuk hadir memberikan keterangan, sehingga tidak ditahan," jelasnya. (ded)


Sumber: Kompas.com
Gue juga pernah beli barang elektronik tanpa manual bahasa indonesia,waktu itu gue beli handphone n-gage made in finlandia yg nggak ada sama sekali bahasa indonesia,apa gue mesti ditangkap ?