Selasa, 17 Juni 2014

Bukan Berinovasi Tapi Merenovasi



Pramoedya Ananta Toer memiliki cara pandang sederhana tentang korupsi, yakni itulah keadaan hasil dari kemiskinan produksi. Sebuah bangsa yang rendah produksi akan tinggi korupsi, Sedangkan Prie GS mengatakan bahwa cara termudah mencari pekerjaan di Negara rendah produksi ialah bukan dengan berproduksi, melainkan merenovasi apa saja yang sudah jadi, seperti gedung di cat ulang. 

Itulah yang terjadi di kantor Gubernur Riau. kita bisa melihatnya sendiri, pagar kantor gubernur di cat ulang berwarna putih, bahkan rumah dinas Gubernur Riau juga di cat warna putih. Saya  tidak tahu maknanya apa, tetapi ini sungguh mubazir. 
 
Mengapa menurut saya mubazir? Sederhana, catnya masih bagus. Dana dari pengecatan itu  bisa digunakan untuk hal yang lain yang lebih berguna. Tetapi pada kenyataannya para pemimpin ini hanya bisa merenovasi, bukan berinovasi. Lebih memilih membangun gedung yang tampak bagus daripada kinerja yang lebih bagus.  

Selasa, 03 September 2013

Tentang Menyontreng Atau Menyoblos

Sudah lama sekali saya tidak menulis di blog yang satu ini, mungkin terlalu sibuk sama blog sebelah.Maaf.

Besok di kota saya, Pekanbaru, akan ada pemilihan gubernur dan wakil gubernur Provinsu Riau. ada 5 pasangan yang bertarung besok. Saya tidak sempat melihat acara debat calon Gubernur dan wakilnya itu karena sedang dalam perjalanan ke lokasi KKN, di lokasi KKN juga susah akses informasi.

Saya adalah orang yang tidak pernah ikut dan tidak ambil pusing dalam pemilihan raya, umum dan apapun bentuk pemilu itu. Karena saya pikir itu percuma. Di kampus saya sudah 2 kali pemilihan raya, saya tidak pernah ikut, karena saya merasa di balik itu ada kepentingan. Setiap pasangan berasal dari organisasi eksternal yang tidak saya sukai, waktu itu. Saya memilih jika berasal dari mahasiswa yang "polos" tidak ada embel-embel di belakangnya. Waktu itu.

Pemilukada atau presiden saya juga tidak pernah ikut karena saya belum cukup umur, tetapi kalau pun ada saya juga tidak memilih, bahasa kerennya GOLPUT. Mengapa? karena saya merasa tidak etis. Kampanye juga tidak etis. Mereka tidak pernah membeli hati rakyat, hanya menjanjikan sesuatu yang palsu, bahasa anak muda yang suka galau, PHP. Mereka cuma sekedar melakukan pencitraan, membuat drama, dan berharap dipilih oleh rakyat.Wajar kan rakyat berharap sama pemimpinnya.

Memang saya tidak begitu tertarik dengan yang namanya politik, saya mulai membicarakan politik sejak saya kuliah di FISIP, di mata kuliah PIP alias Pengantar Ilmu Politik, itu pertama kalinya saya menyimak dunia perpolitikan di Indonesia. Dosen mata kuliah PIP saat itu menjelaskan fenomena politik yang terjadi di Indonesia, kebanyakan yang negatif, seperti berita korupsi dll. Sebagai mahasiswa yang masih labil pada saat itu, saya pun menjadi tidak suka dengan politik, apapun kuliah yang berbau politik, saya tidak suka, memilih untuk duduk dibelakang dan menundukkan kepala alias tidur. Mungkin karena itu nilai mata kuliah politik saya pas-pasan *kok curhat ya? maap, baru ingat ini bukan blog sebelah.
Dengan diceritakan fenomena itu, saya merasa kalau orang politik itu adalah orang jahat, orang-orang yang salah, suka ngorbanin rakyat,cuma menguntungkan mereka dan merugikan rakyat. Rakyat cuma butiran debu.

Ada saja hal yang membuat saya tidak tertarik dengan dunia politik. Ada-ada saja. Padahal politik adalah hal yang paling dekat dengan keseharian kita, kita hidup di atas keputusan-keputusan politik. Saya tidak bisa membayangkan jika pemerintah memutuskan untuk mensensor internet. Itu salah satu contohnya.

Tetapi saya semakin banyak semester di perkuliahan saya, saya mulai berpikir dan menyadari saya ini orang yang tidak peduli. Kepedulian saya dan orang-orang seperti saya membawa korban, korbannya adalah diri sendiri, masyarakat atau lebih khusus lagi rakyat Indonesia. Saya sadar, semakin saya buta politik, semakin mereka memanfaatkan kebutaan itu.

Untuk itu, saya putuskan kali ini saya akan ikut pemilukada untuk pertama kalinya, dan kebetulan juga saya baru pertama kali punya hak suara. Saya sudah baca riwayat calon-calonnya. Korupsi dilakukan oleh orang-orang tidak benar yang duduk di jabatan yang memungkinkan untuk korupsi, jangan biarkan mereka disana, pilihlah pemimpin yang benar. Tetapi siapa yang benar ? nilai dari hati dan pikiran kita. Walaupun mensinkronkannya susah, tetapi pasti bisa.Bissmillah..

Hiduplah Indonesia Raya ...

Rabu, 29 Mei 2013

Tesso Nilo National Park

Hari Jumat-Minggu lalu saya, teman-teman sosiologi 2010 Universitas Riau berada di sebuah desa yang bersana desa Lubuk Kembang Bungo, kecamatan Ukui, Pelalawan, Riau. Desa ini merupakan pintu masuk Hutan Taman Nasional Tesso Nilo dimana disini tempat dari konservasi gajah Sumatera dan Harimau Sumatera serta tumbuhan yang dilindungi.

Disini kami meneliti tentang hubungan sosial masyarakat dengan Taman Nasional Tesso Nilo. Banyak fakta yang membuat saya dan teman-teman kaget. Diantaranya masyarakat desa tersebut ada yang tidak tau dimana taman nasional, tidak pernah kesana, menginterpretasikan bahwa taman nasional itu berbentuk taman bunga, tempat bermain anak-anak. Ada lagi yang mengatakan bahwa pengelola taman nasional Tesso Nilo sendiri tidak memberikan penjelasan yang membuat masyarakat disana mengerti mengenai peraturan yang ada di taman nasional tersebut, batasan-batasan taman tersebut yang tidak boleh dijadikan lahan oleh masyarakat. Ada lagi masyarakat yang menceritakan pada waktu Menteri kehutanan mengunjungi Tesso Nilo, masyarakat tidak boleh bertanya atau memberikan aspirasi mereka dalam diskusi bersama Menteri Kehutanan dan pada saat itu juga Menteri Kehutanan memberikan janji bahwa masyarakat disana akan diberikan lahan untuk penghidupan mereka, tetapi sampai sekarang masyarakat belum mendapat lahan yang dijanjikan. Fakta lainnya yaitu, masyarakat tidak pernah membunuh gajah atau harimau, tetapi hanya kacil yang kecil untuk mereka makan, salah satu masyarakat yang kami temui, beliau mengatakan bahwa gajah yang sering masuk ke desa merupakan gajah yang sudah jinak kalau saja gajah itu liar, mereka akan takut dengan manusia. Masyarakat mengatakan bahwa kalau pengelola taman dan wwf tidak pernah mensosialisasikan bagaimana Tesso Nilo tersebut, batas-batas wilayah, mereka hanya diberikan peta oleh pihak taman dan wwf yang diberikan oleh kepada desa setempat.

Disisi lain, pihak pengelola dan wwf mengatakan hal yang berbeda. Mereka sudah mensosialisasikan kepada masyarakat. 

Menurut saya, seharusnya tidak ada yang disembunyikan oleh pihak-pihak terkait dengan Tesso Nilo. Pihak-pihak yang harus mensosialiasikan juga harus mengerti bagaimana kondisi masyarakat disana. Pemahaman mereka jauh dari apa yang kami kira mengenai Tesso Nilo.

selengkapnya



Selasa, 26 Februari 2013

Kepo Abis

Gue lagi galau milih fenomena apa yang gue angkat untuk skripsi gue, soalnya latar belakangnya harus udah selesai jumat sore besok. 
Di tengah kegalauan gue, beberapa waktu lalu, gue sempat nanya sama seorang yang dosen untuk nanyain fenomena sosial yang menarik sekarang, dan dia  ngebales. Hari ini gue penasaran sama beliau. Gue cari tahu semua tentang beliau dan sekarang ketemu, ternyata beliau seorang dosen di Nanyang Technology University konsentrasi sosial politik, orang Indonesia, alumni ITB. Sekali lagi gue terkagum sama kepintaran orang-orang Indonesia yang di pakai sama negeri lain, tapi bukan di negeri sendiri. Namanya Sulfikar Amir.

Kamis, 16 Agustus 2012

Dirgahayu 67 Tahun INDONESIAku !!!

Besok udah tanggal 17 Agutus 2012 , itu berarti Indonesia berulang tahun  yang ke 67 tahun.Usia yang sudah dikatakan tua,menurut umur manusia,Nabi Muhammad dikasih batas usia 63 tahun sama Allah,negara kita alhamdulillah udah masih bisa bertahan dengan umurnya yang segini.

 Indonesiapun bukannya luput dari kesalahan, keburukan yang memalukan.Indonesia masih memegang posisi sebagai negara paling korup se-Asia Tenggara. Kendatipun begitu, kitapun merasakan bahwa masa sekarang sama sekali berbeda dengan masa lalu di era kepemimpinan Pak Harto misalnya. Hari ini, setiap hari kita buka koran, ada artikel tentang pemberantasan korupsi, persidangan koruptor, dll. Namun yang membuat kita semua pusing adalah dagelan dagelan para dalang kebusukan ini. Kasus KPK, Kepolisian, Dinas Perpajakan, Kehakiman, Kejaksaan Agung, dan siapapun yang terkait ini seakan akan tidak ada ujungnya.

Adnan Buyung Nasution mengatakan pada saat sesi wawancara disebuah radio bahwa
3 lembaga paling korup di Indonesia. Seakan seperti refleks beliau menjawab dengan cepat dan yakin: “Kehakiman , Kejaksaan, Kepolisian.” Lalu beliau menambahkan “Ada lagi... Pengacara.” Dengan mengetahui fakta itu, siapa yang tidak pusing dengan penegakkan hukum di Indonesia? Apalagi ada begitu banyak kasus yang belum juga usai.Tidak usah kita bicarakan Gayus dan Susno.. Bagaimana dengan Century? Bagaimana dengan MUNIR? Bagaimana dengan kerusuhan mei 98? Bagaimana dengan semua ketidak adilan yang tidak pernah ditegakkan? 

Kalau uang digunakan sebagai senjata politik, maka kestabilan dunia politik bisa berantakan.Ini yang sebenarnya mulai terlihat. Bayangkan orang yang punya uang tak terhingga banyaknya, punya kekuatan media, dan memiliki kekuatan politik.Orang tersebut antara bisa membawa kebaikan, atau sebaliknya malapetaka untuk kestabilan negara. Tergantung nuraninya.Mungkin dari sini mulai terbayang mengapa dunia politik Indonesia sekarang sedang bergejolak.

Maaf eada emosi,hehehe.Tapi gue percaya kalau dibalik semua itu kita ini bangsa yang luar biasa,tentunya tanpa para koruptor itu.Lihat Indonesia sekarang. Lihat Indonesia, kalau ada yang bilang kita tidak punya potensi, maka dia buta.Ga usah takut kita belum mampu maksimalkan potensi.Indonesia sekarang, negara ini akan ada untuk SELAMANYA! Kita punya banyak waktu, banyak kekayaan dan percaya sama gue, banyak tenaga kerja yang MAMPU untuk membawa Indonesia jadi lebih baik.Memang, Indonesia tidak sempurna, memang Indonesia banyak korupsi, tapi negara negara lain juga punya kebobrokan sendiri sendiri.Gue bukannya mau menjelek jelekin negara lain, gue mau bilang bahwa Indonesia itu tidak buruk buruk amat.HANYA SAJA orang Indonesia terlalu sering fokus pada kesalahan Indonesia sehingga lupa untuk menyadari kebaikan dan potensi Indonesia.
Yang kita perlukan adalah menggunakan KEKUATAN dan KEMAMPUAN yang hebat dari setiap individu di Indonesia ini untuk MENYEDIAKAN PILIHAN.Supaya Bangsa ini tidak lagi terpaksa memberikan kuasa kepada orang orang yang lama. Orang orang yang itu itu aja.Supaya bangsa ini mendewasa dengan banyaknya PILIHAN.Itulah perjuangan kita.MENYEDIAKAN PILIHAN untuk mempercepat laju kedewasaan dan kesejahteraan kita sebagai bangsa.

“Musuh” kita hanya mereka yang memakai seragam dan mengibarkan bendera yang berbeda dengan kita.Setiap kali kita ada musuh bersama, Indonesia bersatu.Sudah saatnya kita menyadari bahwa sebenarnya, apapun yang terjadi di Indonesia, sesungguhnya kita selalu dan tidak pernah tidak cinta dengan Indonesia.Mungkin selama ini ada yang tidak mau kita bersatu.
Mungkin ada yang selama ini takut kalau Indonesia menjadi negara adidaya.Mungkin selama ini ada yang sebenarnya tahu apa yang negara kita bisa lakukan kalau kita bersatu.Mungkin, sudah waktunya kita buktikan siapa diri kita sebenarnya.Mungkin sudah waktunya kita mencuci bersih keburukan kita dengan mulai melakukan sesuatu untuk kebaikan Indonesia, BERSAMA-SAMA.

Dirgahayu ke 67 Indonesiaku

 

 

Minggu, 05 Agustus 2012

Noda menuju 67

Olimpiade kali ini yang di selenggarakan di Inggris merupakan Olimpiade yang menurut gue sangat buruk buat bangsa kita,Indonesia.Di Olmpiade kali ini,kita puasa medali emas,berbeda dengan olimpiade-olimpiade sebelumnya yang biasanya,kita meraih emas,khususnya bulutangkis.Apalagi setelah kasus terdiskualifikasinya kontingen ganda putri bulutangkis kita di olimpiade London karena tidak bermain secara sportif.Kita semua tahu masalahnya apa.Dan banyak yang kecewa dengan ini.Karena di cabang Bulutangkislah kita punya banyak harapan,bukan berarti cabang yang lain enggak,tapi di buluutangkis kita sudah banyak mengukir prestasi..

Sangat disayangkan, demi mengejar emas harus mengorbankan sportifitas.Katanya sih strategi,tapi Stategi yang membawa duka,pulang dengan memalukan.Lebih baik kalah sportif dari pada kalah nggak sportif apa lagi udah kena di diskualifikasi.

Dengan kejadian ini, bisa saja banyak orang yang memilih untuk membuang muka terhadap Indonesia.Banyak yang tidak antusias lagi melihat pertandingan bulutangkis,bisa saja.Banyak orang hari ini menjadikan hal-hal seperti ini sebagai alasan untuk apatis terhadap dunia olahraga Indonesia.Meninggalkan noda menuju usia 67 tahun Indonesia merdeka.



Semoga ini menjadi yang pertama dan terakhir bagi Indonesia.Semoga prestasi itu tiba, yang apatis semoga akan kembali lagi mendukung Indonesia.Mencintai sebuah tim, mencintai sebuah cabang olahraga, mencintai dan mendukung atlet-atlet Indonesia, bukan hanya karena harapan kemenangan,tapi sportifitas yang sangat dijunjung tinggi oleh bangsa ini.

Rasanya segar sekali berkumpul bersama-sama lagi  dengan atribut merah putih dan sama-sama berteriak

IN-DO-NE-SIAAAA!!

LOVE IT LIVE.
Perhelatan olahraga, terutama kalau mewakili Indonesia memang selalu jadi sesuatu yang sangat indah.
Menjadi sebuah budaya.Menjadi sebuah alat pemersatu paling indah.Olahraga memang tidak seharusnya jadi alasan atau pemicu sebuah konflik, justru sebaliknya.Olahraga memegang peranan yang sangat penting untuk bersatunya Indonesia.


Selasa, 05 Juni 2012

Tan Malaka, Komunisme, Pancasila, dan Warisan Pemikirannya

Tanggal 1 Juni kemarin diperingati hari lahirnya PANCASILA.Pancasila sebagai pandangan hidup yang mengedepankan perihal Ketuhanan dalam berbagai catatan sejarah bangsa Indonesia di masa Orde Baru diklaim terdistorsi dengan paham komunis yang terkesan kelewat revolusioner dan anti-Tuhan. Beberapa tahun kemudian, ideologi Nasakom (Nasionalis, Agama dan Komunis) yang digagas Soekarno karena hendak memberikan ruang bagi PKI dan komunisme menjadi bumerang bagi pemerintahan Soekarno.

Puncaknya adalah pemberontakan G30S yang di masa Orde Baru disebutkan didalangi PKI. Film penyiksaan dan pembunuhan yang sadis itu membuat siapa pun akan merinding mendengar nama PKI. Tanggal 1 Oktober pun ditetapkan sebagai Hari Kesaktian Pancasila, yang menjadi tanda bahwa Pancasila telah menang atas “kuasa jahat” PKI dan komunisme.

Pemerintahan yang dijalankan oleh SOEHARTO secara umum berhasil menanamkan suatu KETAKUTAN dan bahkan KEJIJIKAM terhadap Partai Komunis Indonesia (PKI) dan paham komunisme. Kita yang pernah hidup di masa itu tahu, bahwa segala sesuatu yang berbau dengan komunisme dan PKI HARAM hukumnya untuk DITELUSURI dan DIPELAJARI. Penataran-penataran P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila) digelar dalam berbagai institusi. INDOKTRINASI yang kaku ini dinilai sebagian kalangan cukup berhasil, walau banyak juga yang menyatakan bahwa sakralitas Pancasila menjadi PUDAR karenanya.

13070271351014146204
TAN MALAKA

Tan Malaka memiliki peran yang cukup besar dalam Partai Komunis Indonesia (PKI). Ia pengagum berat ajaran-ajaran Marx dan Lenin. Tahun 1921 ia menjadi KETUA PKI  menggantikan ketua PKI saat itu, Semaun, yang sedang berada di Moskow. Namun, pada perkembangan selanjutnya, Tan agak berseberangan dengan beberapa tokoh komunis dalam negeri seperti Semaun, Alimin, Darsono, dan Musso.Hal ini bermula pada rapat PKI tanggal 25 Desember 1925 di Prambanan, Semarang, yang memutuskan mengadakan pemberontakan terhadap Belanda. Tan menilai PKI tidak siap melakukan hal itu. Ia meramalkan banyak kegagalan yang bakal dituai PKI dalam aksi itu. Ia menulis sebuah buku Massa Actie (Aksi Massa) untuk dijadikan bahan pembelajaran bersama sebelum sebuah aksi pemberontakan digelar. Buku Massa Actie yang ditulisnya di Singapura tidak sampai sasaran — belakangan malah dijadikan para nasionalis sebagai bahan pembelajaran melawan imperialisme. 

PKI tetap melakukan aksi pemberontakan terhadap Belanda di beberapa daerah di Jawa dan Sumatera pada 12 November 1926 sampai 12 Januari 1927. Target pemberontakan mereka banyak yang gagal. Banyak pemimpin PKI yang ditangkap dan dibuang. Namun Tan diakui di dunia internasional. Ia tetap menjadi anggota Komintern (Komunis Internasional),  menjadi pengawas untuk Indonesia, Malaya, Filipina, Thailand, Burma, dan Vietnam. Dengan beberapa kawan ia mendirikan Partai Republik Indonesia (Pari) di Bangkok pada bulan Juni 1927.

Tan Malaka yang lahir pada tahun 1897 adalah seorang yang di masa kecilnya mewarisi tradisi Minang: rajin sembahyang, tidur di masjid, dan hapal Qur’an. Nama lengkapnya Ibrahim Datuk Tan Malaka. “Saya lahir dalam keluarga Islam yang taat. Ibu-bapak saya keduanya taat dan orang (yang) takut kepada Allah dan jalankan sabda Nabi,” tulisnya dalam buku Islam dalam Tinjauan Madilog.

Ignas Kleden, sosiolog, menyebutnya Tan Malaka “Marxis tulen dalam pemikiran, tapi nasionalis yang tuntas dalam semua tindakannya.” Salah satu pandangan Tan tentang agama ada dalam baris-baris kalimat berikut, yang diucapkannya saat berpidato di kongres Komunis Internasional tahun 1922 di Rusia:
“Kami telah ditanya di pertemuan-pertemuan publik: Apakah Anda Muslim — ya atau tidak? Apakah Anda percaya pada Tuhan — ya atau tidak? Bagaimana kita menjawabnya? Ya, saya katakan, ketika saya berdiri di depan Tuhan saya adalah seorang Muslim, tapi ketika saya berdiri di depan banyak orang saya bukan seorang Muslim, karena Tuhan mengatakan bahwa banyak iblis di antara banyak manusia!”
***
Di hari Pancasila ini, baiklah kita merenungkan bahwa tidak semua orang yang dekat dengan PKI dan komunisme tak memberikan sumbangsih apa pun bagi kemajuan bangsa ini. Tidak perlu menjadi seorang sejarawan dengan disiplin ilmu yang ketat untuk berpikir jernih tentang masa lalu. Mungkin ini sedikit naif. Namun, pertanyaannya: apakah semua orang menjadi pemuka agama ketika menganut sebuah agama? Apakah saya harus menjadi pendeta, dan saudara-saudara saya yang Muslim harus menjadi kiai atau ustad dulu, atau mereka yang Buddha harus menjadi bhiksu dulu, baru kita bisa berpikir jernih tentang agama? Tidak.

Sangat disayangkan, di masa kini banyak orang yang masih antipati dengan hal-hal tertentu, seperti komunisme, tanpa pernah berusaha tahu — paling tidak sekilas — tentang tentang hal-hal tersebut. Demikian pula dengan Tan Malaka. Tan Malaka jelas-jelas seorang yang tidak anti-Tuhan. Waktu saya membaca karyanya yang berjudul Pandangan Hidup, saya terkesan dengan wawasan yang ia miliki dalam hal filsafat dan agama. Ia menjabarkan berbagai ilmu filsafat dan agama yang telah membentuk kehidupan di dunia ini — dari teori evolusi Darwin, Islam, Kristen, Yunani, India, dan masih banyak yang lainnya.

Pemikir seperti Tan Malaka memang sudah jarang di zaman ini. Sebabnya, zaman sudah lain. Kita lebih banyak berpikir tentang bagaimana bertahan hidup di zaman yang penuh tantangan makin keras akibat arus globalisasi yang makin deras. Kita lebih banyak memikirkan kondisi perut kita sendiri. Tan Malaka, saat ia hidup, sibuk memikirkan seperti apa Indonesia pada nantinya. Ia tidak menikah dan berkeluarga karena hidupnya yang sulit dan berpindah-pindah. Ia menyamar di banyak kesempatan, menjadi buron karena harus menghindar dari intaian mata-mata pemerintah kolonial yang pro-kapitalis.

Hidupnya bahkan berakhir tragis, ditembak mati di tanah air dan republik yang ia cita-citakan memiliki kemerdekaan sendiri. Pemikiran-pemikiran Tan Malaka begitu visioner — ia memandang jauh ke depan. Bahkan sebelum Soekarno membuat risalah berjudul Mencapai Indonesia Merdeka tahun 1933, ia telah menyebut Indonesia sebagai “republik” pada tahun 1925 lewat karyanya berjudul Menuju Republik Indonesia. Dibandingkan dengan berbagai tokoh lain di zamannya, Tan Malaka adalah bapak bangsa yang paling banyak menulis.

Sampai kapan dan sejauh mana pemikiran-pemikiran Tan Malaka hidup? Tidak akan pernah ada yang tahu. Secara garis besar, Tan Malaka adalah sosok yang sangat anti-kapitalis, namun bangsa kita, yang berideologi Pancasila ini, kian kapitalis. Bukan hanya kapitalis, Pancasila pun kian terkikis. Sila Ketuhanan, Kemanusiaan, dan Persatuan, diancam dengan berbagai teror dan toleransi antar umat beragama yang kian renggang. Sila Kerakyatan diinjak-injak oleh wakil-wakil rakyat dan pejabat yang haus jabatan dan kekuasaan. Sila Keadilan terancam dengan korupsi yang menjadi-jadi dan perlakuan yang semena-mena terhadap rakyat kecil.

Sudah waktunya warisan para pendiri bangsa di masa lalu kita tilik ulang untuk menata kehidupan di masa kini. Misalnya dalam hal ekonomi. Soekarno mewariskan paham Marhaenisme yang amat dekat dengan sosialisme ala Tan Malaka. Hatta menyampaikan gagasan-gagasan ekonomi kerakyatan yang memberdayakan rakyat sebagai pelaku kegiatan ekonomi.

Paling tidak, dengan mempelajari gagasan-gagasan para pendiri bangsa, kita bisa mengetahui ke mana bangsa ini mau dibawa, atau apa-apa saja yang sejak dulu sebenarnya sudah menjadi keunggulan di bangsa ini. Dan, ketika di masa kini kita tidak lagi menemukan suatu cara untuk menata kehidupan berbangsa dan bernegara, sebuah slogan, historia docet, menemukan kebenarannya. Historia docet artinya sejarah mengajar — mengajar kita untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik.

KOMPASIANA

Minggu, 08 April 2012

Pandji Pragiwaksono Wongsoyudo

Inspirasi gue buat blog ini karena seorang yang memotivasi gue banget,seseorang yang cinta basket dan selingkuhannya sepakbola.Dia cinta banget sama INDONESIA.Sejak gue baca bukunya,dia berhasil ngebuat gue,khususnya perasaan gue buat cinta sama negara kita ini,gimanapun bentuknya sekarang ini ditengah perpecahan koalisi,banjir,serangan tomcat dan banyak lagi peristiwa yang sedang dialami oleh Indonesia sekarang ini.Dia adalah Pandji Pragiwaksono Wongsoyudo.


Gue awalnya tahu dia sebagai Host dari acara reality show "Kena Deh" pasti kalian semua tahu acara itu.Acara yang ngetest tentang pengetahuan umum kita gitu tanpa kita sadar bahwa kita sedang masuk acara itu.

Dulu gue cuma tahu dia sebagai host doang,eh ternyata bukan.Sejak gue nonton Provoactive proactive dan gue dateng ke acara Rossy Goes To Campus di kampus gue UNRI yang sekarang biasa disebut UR dan gue nge follow twitter dia ternyata dia bukan hanya seorang Host,tapi juga penyiar,penulis,stand up comedian,rapper, pebisnis dan pemain basket tiap hari senin.

Dia penyiar sebuah radio,punya almbum yg bisa di dowlnoad grtais di pandji.com,usaha REF Clothing, sebuah brand untuk baju basket. Pandji pun konsisten dengan selalu memakai baju dari brandnya sendiri.

Gue juga download buku-bukunya yang ada di website pribadi dia,gue lupa alamatnya,dia ngebuat gue terinspirasi banget.Buku yang gue ngerti cuma NASIONAL.IS.ME.HAHA. Buku yang memberikan gue pengetahuan tentang Indonesia,bikin kita optimis,khususnya buat negara kita.Pokoknya bagus.Memotivasi,menginspirasi.


Selain itu,gue juga download lagu-lagi dia,ya yang sesuai dengan hatilah.Antara lain Untuk Indonesia,Kami tidak takut,Lagu melayu,Tak seindah dulu,Main itu hidup .HAHA.

Sejak adanya kompas TV gue jadi sering liat dia di tv,dia salah satu pencetus adanya stand up comedy di Indonesia tentunya bersama Raditya Dika dkk.Dia juga punya acara di kompas TV yang 180 derajat.

Dia orangnya keren tinggi,gue juga pengen tinggi kayak dia,dia orangnya punya ide-ide kreatif,abang gue mengakuinya.HAHA.Gue pengen download lagu dia always a player.Inti lagunya menganalogikan kehidupan dengan basket.

Gak banyak kata-kata gue yang menggambarkan gue mengidolakan pandji.