Selasa, 10 Januari 2012

Misteri Tan Malaka

Harry A Poeze, Meener Belanda Pengungkap Misteri Tan Malaka.

Sosok pahlawan revolusioner Tan Malaka, rupanya menarik perhatian peneliti asal Belanda, Harry A Poeze. Selama 40 tahun pria Belanda kelahiran 20 Oktober 1947 itu meneliti kemisteriusan sosok revolusioner beraliran kiri tersebut.

Sungguh ironis memang, di saat mayoritas warga-warga pribumi kurang mengenal sosok Tan Malaka, Harry Poeze hadir sebagai penguak misteri tokoh Tan Malaka. September 2009 lalu, ia bersama rekannya berhasil menemukan makam Tan Malaka, di Desa Selopanggung, Kediri, Jawa Timur.

Ketertarikan Harry akan tokoh Tan Malaka dimulai saat dirinya sedang membuat skripsi pada tahun 1971. Kala itu, Harry ingin meneliti tentang sejarah Indonesia hingga akhirnya menemukan arsip-asrsip tentang Tan Malaka yang tersimpan di Belanda. Ia pun sempat mengunjungi sekolah Tan Malaka saat tinggal di Belanda

"Begitu saya baca garis besar dari riwayat beliau, sangat luar biasa. Kemisteriusan beliau, yang membuat saya tertarik untuk meneliti," Ucap Harry, saat jumpa pers terkait perkembangan hasil DNA Tan Malaka, di Wisma Shalom, Jl Kramat Pulo, Jakarta, Senin (9/1/2012).

Pria lulusan Amsterdam Universiteit ini, mengaku tidak puas jika hanya meneliti sosok Tan Malaka dari kejauhan. Akhirnya, pada tahun 1976, Harry menapakkan kakinya di tanah Jawa. Kala itu, rezim orde baru sedang berkuasa, sulit sekali mencari informasi tentang Tan Malaka, karena ia dianggap tokoh aliran komunis yang saat itu masih dianggap tabu.

"Dalam kunjungan ke Indonesia, saya tidak pernah menulis nama Tan Malaka dalam visa saya. Seandainya saya tulis, mungkin penelitian saya tidak akan pernah terjadi karena Orde Baru sangat menutup informasi Tan Malaka," papar Harry.

Selain informasi, kesulitan Harry dalam penelitiannya ialah sosok Tan Malaka yang belum akrab di telinga masyarakat pada masa itu. Namun Harry agak diuntungkan dengan statusnya sebagai warga asing. Karena pada masa tersebut, kecurigaan sangat besar, manakala seseorang ingin menggali informasi yang berkaitan dengan PKI.

"Mungkin kalau saya warga Indonesia yang ingin menggali soal Tan Malaka dan pemikirannya, saya bisa dicurigai sebagai PKI," ucap ayah dua anak ini.

Keuletan dan dedikasinya yang tanpa lelah, tepat pada 40 tahun penelitiannya terhadap Tan Malaka, Harry menemukan sebuah jawaban dari kisah misterius Tan Malaka. Sebuah makam di desa kecil yang bernama Selopanggung, mengungkap tabir dari sosok pahlawan nasional tersebut.

Harry bercerita memang sangat sulit sekali menentukan apakah makam tersebut adalah kuburan Tan Malaka atau tidak, warga desa pun tidak mengenal sosok Tan Malaka. Harry memutar otaknya, ia menanyakan pada warga, apakah sosok yang dikubur dalam makam itu merupakan korban penembakan tentara, hingga ciri-ciri fisik pengarang buku Madilog tersebut.

"Dan kepala desa di sana ingat betul peristiwa itu, saya pun menanyakan ciri-ciri fisiknya dan hasilnya mirip," ungkap Harry dengan rasa puas.

Kini, misteri Tan Malaka mulai terbuka sedikit demi sedikit. Dedikasinya terhadap Tan Malaka, membuat Harry bercerita dalam enam bukunya yang berseri Tan Malaka. Kelak, Ia berharap semoga penelitannya tidak terhenti pada titik ini saja.

Di mata Harry, Tan Malaka memiliki sosok yang amat menarik. Konseptor partai Murba ini, dinilai Harry sebagai seorang tokoh yang memiliki tulisan sejarah Indonesia dari sudut pandang yang berbeda. Harry mengatakan kisah Tan Malaka merupakan satu babak sejarah Indonesia yang hilang, karena ditutup rapat-rapat oleh rezim Orde Baru.

"Sosok lain yang membuat saya tertarik akan Malaka ialah karya sastranya. Buku Madilog memberikan cara berpikir yang berbeda dari sosok Tan Malaka," jelas pria bermantu orang Indonesia ini.

Ketertarikan akan Tan Malaka membuat dirinya ingin menggali sejarah-sejarah Indonesia, terutama yang masih menyimpan misteri. Kedepannya, ia ingin membuat buku tentang orang-orang buangan pada masa pendudukan Belanda dan orang buangan PKI, di Tanah Merah, Digoel, Papua.

"Proyeksi ke depan ingin sekali meneliti tentang orang-orang Indonesia yang dibuang ke Tanah Merah. Pasti akan menyenangkan perjalanan saya ke Papua nanti," tutup Harry, mengakhiri perbincangan.

Dikutip dari Detik.com

Minggu, 01 Januari 2012

Resolusi Juara bersama Telkomspeedy

Tahun 2012.Kita udah ninggalin cerita di tahun 2011.Banyak banget.Dari yang senang sedih,bahagia,asem semuanya ada di sana,rasanya nano-nano.Ini bukan iklan permen.

Banyak cerita di tahun-tahun kehidupan yang gue lewati,mungkin bukan gue aja,mungkin kita semua.Pelajaran yang berharga.Pelajaran yang mungkin bisa buat kita lebih baik di tahun depan.Tahun kemaren gue banyak buat RESOLUSI dalam tahun ini,tapi gak gue tulis.Cuma sebatas pikiran gue aja.Gak gue tulis.Hilang bersama dengan teori-teori fisika dulu yang gue pelajari sewaktu SMA.Dan kali ini gue mungkin akan menulisnya di blog gue ini.Jadi tidak akan lupa,kalo gue lupa,gue buka kembali RESOLUSI JUARA gue ini.



Hari-hari gue gak lepas dari yang namanya INTERNET. Dari online twitter,facebook-kan,ngaskus,games,download,youtube,menulis jurnal harian gue di internet,nama kerennya blog. Gue betah banget duduk didepan komputer pakai internet.Memang internet dengan gue itu seperti gue dengan hp gue,gak bisa terpisahkan.

Dan untuk menunjang itu semua,gue pakai Telkomspeedy.Kenceng banget mennnnnn.Apalagi saat gue buka youtube,tanpa buffering,hari gini masih buffering,gak jaman.Gue benci yang lelet. Download apalagi. Download dengan kapasitas besar gak mesti nunggu lama.Bisa ngemat waktu gitu.



Dikampus gue juga make hotspot Telkomspeedy,tempat hotspot itu dinamakan taman igital FISIP UR,membuat gue,seorang mahasiswa Sosiologi Universitas Riau baru baru menjalani 3 semester ini,jadi mudah ketika ingin ingin browsing dan itu tetep kenceng banget,walaupun banyak yang online.Sewaktu peresmian Taman Digital ,diadakan lomba design blog untuk anak SMA kota Pekanbaru.

Ini penampakannya :


Apalagi Telkomspeedy ini ngebantu gue banget sewaktu gue daftar beasiswa dari salah satu perusahaan besar di Indonesia.Prosesnya online.ngirim datanya cepat.Dan bulan oktober kemaren gue meraih beasiswa itu.Terima Kasih Telkomspeedy.

Selain internet,gue juga suka nonton.hehehhe.Dan dirumah baru aja langganan Telkom Vision.Channelnya banyak,penuh pengetahuan.Jadi gak bosan kalo dirumah,ada hiburan.Dari pada keluyuran gak jelas ngebuat badan capek,mending nonton yang bermanfaat dirumah.


Ketika waktu kosong,Gue ngeblog.Ngeblog untuk Indonesia.Isi dari blog itu adalah isi dari optimisme gue terhadap Indonesia. Negara ini bisa maju ketika bangsanya udah optimis.Dan gue memilih blog sebagai wadah untuk mengajak mereka yang membaca blog gue ini untuk optimis terhadap negara Indonesia ini.Negara tempat kita lahir,tempat kita tinggal,tempat kita menutup mata.

Banyak yang udah gue lakuin dengan menggunakan internet.Dan gue pengen itu tetap berlanjut di tahun ini tahun depan dan begitu seterusnya.Terutama untuk ngeblog.Salah satu Resolusi Juara 2012,gue ingin mengikuti Pesta Blogger.Perlu diketahui, Pesta Blogger Indonesia adalah acara kopi darat blogger terbesar di dunia! Tidak ada yang bisa bikin blogger berkumpul sebanyak ini di negara negara lain.Untuk mengikuti Pesta Blogger itu gue harus terus ngeblog.

Bangsa ini, akan bergerak, melalui inspirasi-inspirasi yang dihirup lewat tulisan tulisan blogger Indonesia. Tentu ada yang tulisannya kosong, tapi banyak sekali yang tulisannya luarbiasa. Seperti halnya koran, berlanggananlah yang sesuai dengan panggilan jiwa.

Tahun 2012 gue tetap akan terus ngeblog,menulis tentang Indonesia.Gue ingin menciptakan perubahan.Menciptakan perubahan yang baik untuk Indonesia dengan mengambil inisiatif untuk berkarya.Menciptakan perubahan tidak harus menciptakan gerakan, atau yayasan
Bisa juga ikut yang sudah ada dan sesuai dengan panggilan jiwa kita.Dan gue memilih untuk ngeblog.Berkarya dengan blog.

Dan tidak lupa memenangkan lomba blog Telkomspeedy.hehehehhhee.

Mungkin itu aja resolusi gue di tahun 2012 ini.Semoga semuanya tercapai dengan usaha dan doa .Amin

Senin, 19 Desember 2011

Mengenal Sosok , "Bapak Bangsa Yang Terlupakan"

Ternyata Bapak bangsa yg satu ini narsis juga yaa hhehe
Tan Malaka lahir di Pandan Gading-Sumatra Barat, tahun 1897. Pendidikan yang ditempuhnya: Sekolah Dasar di Suluki, Sekolah Guru di Bukittinggi dan Sekolah Guru Haarlem Belanda. Semasa di Sekolah Guru di Belanda, ia menonjol dalam ilmu pasti sehingga guru-gurunya kerap memberi pujian. Selanjutnya, Tan Malaka lebih memberi perhatian pada kemiliteran.

Saat berumur 16 tahun, 1912, Tan Malaka dikirim ke Belanda. Tahun 1919 ia kembali ke Indonesia dan bekerja sebagai guru disebuah perkebunan di Deli. Ketimpangan sosial yang dilihatnya di lingkungan perkebunan, antara kaum buruh dan tuan tanah menimbulkan semangat radikal pada diri Tan Malaka muda. Tahun 1921, ia pergi ke Semarang dan bertemu dengan Semaun dan mulai terjun ke kancah politik

Pada tahun 1921 Tan Malaka telah terjun ke dalam gelanggang politik. Dengan semangat yang berkobar dari sebuah gubuk miskin, Tan Malaka banyak mengumpulkan pemuda-pemuda komunis. Pemuda cerdas ini banyak juga berdiskusi dengan Semaun (wakil ISDV) mengenai pergerakan revolusioner dalam pemerintahan Hindia Belanda. Selain itu juga merencanakan suatu pengorganisasian dalam bentuk pendidikan bagi anggota-anggota PKI dan SI (Sarekat Islam) untuk menyusun suatu sistem tentang kursus-kursus kader serta ajaran-ajaran komunis, gerakan-gerakan aksi komunis, keahlian berbicara, jurnalistik dan keahlian memimpin rakyat. Namun pemerintahan Belanda melarang pembentukan kursus-kursus semacam itu sehingga mengambil tindakan tegas bagi pesertanya.

Melihat hal itu Tan Malaka mempunyai niat untuk mendirikan sekolah-sekolah sebagai anak-anak anggota SI untuk penciptaan kader-kader baru. Juga dengan alasan pertama: memberi banyak jalan (kepada para murid) untuk mendapatkan mata pencaharian di dunia kapitalis (berhitung, menulis, membaca, ilmu bumi, bahasa Belanda, Melayu, Jawa dan lain-lain); kedua, memberikan kebebasan kepada murid untuk mengikuti kegemaran mereka dalam bentuk perkumpulan-perkumpulan; ketiga, untuk memperbaiki nasib kaum miskin. Untuk mendirikan sekolah itu, ruang rapat SI Semarang diubah menjadi sekolah. Dan sekolah itu bertumbuh sangat cepat hingga sekolah itu semakin lama semakin besar.

Perjuangan Tan Malaka tidaklah hanya sebatas pada usaha mencerdaskan rakyat Indonesia pada saat itu, tapi juga pada gerakan-gerakan dalam melawan ketidakadilan seperti yang dilakukan para buruh terhadap pemerintahan Hindia Belanda lewat VSTP dan aksi-aksi pemogokan, disertai selebaran-selebaran sebagai alat propaganda yang ditujukan kepada rakyat agar rakyat dapat melihat adanya ketidakadilan yang diterima oleh kaum buruh.

Pada Juni 1927 di Bangkok Thailand, bersama Soebakat dan Djamaludddin Tamin, Tan Malaka memproklamasikan berdirinya Partai Republik Indonesia (PARI). Dua tahun sebelumnya Tan Malaka telah menulis "Menuju Republik Indonesia". Itu ditunjukkan kepada para pejuang intelektual di Indonesia dan di negeri Belanda. Terbitnya buku itu pertama kali di Kowloon, Hong Kong, April 1925.

Antara tahun 1942-1943, ia menulis "Madilog" (Materialisme, Dialog, Logika) yang menyuguhkan gagasan Tan Malaka mengenai cara berpikir baru untuk memerangi cara berpikir lama (dipengaruhi tahayul atau mistik yang menyebabkan orang menyerah secara total kepada alam).

Pada awal bulan September 1945, Tan Malaka mengunjungi Soekarno di rumah dokter pribadinya, dr. Soeharto. Dalam percakapan yang disaksikan oleh Sajuti Melik, Tan Malaka mendesak Presiden untuk mengundurkan diri ke pedalaman untuk mengatur perlawanan bersenjata yang lebih efektif.

Hasil percakapannyanya dengan Tan Malaka itu membuat Soekarno terkesan sehingga Soekarno menyatakan jika terjadi sesuatu dengan dirinya maka Tan Malaka mengambil alih segala tanggung jawabnya. Penjelasan Soekarno tersebut kemudian diceritakan Tan Malaka kepada kawannya, Soebardjo, yang mana kemudian mereka berdua berinisiatif membuat surat wasiat.

Surat wasiat tersebut segera mengalami kadaluarsa ketika Jenderal Christison menjamin bahwa Inggris akan menghormati pemerintahan Soekarno dan membuka jalur perundingan dengan pihak sekutu dan Belanda

Pemikiran dialektiknya terlihat dari sikapnya yang mempertentangkan golongan tua (Soekarno-Hatta) dengan golongan muda (pemuda pejuang). Ia sinis terhadap golongan tua yang mau bekerja sama dengan golongan penjajah, sekaligus menaruh harapan pada golongan muda sebagai ujung tombak perjuangan. Meski Tan Malaka sinis terhadap golongan tua (Soekarno-Hatta), namun ketika pemerintah di bawah kepemimpinan Soekarno-Hatta tetap mengapresiasi perjuangannya.

Tahun 1946, ia ditangkap dengan tuduhan menggerakan rakyat menentang Persetujuan Linggarjati, antara Belanda dan Indonesia. Tidak lama kemudian ia juga dituduh terlibat dalam peristiwa 3 Juli 1946, yakni peristiwa kudeta terhadap pemerintah. Namun dalam pengadilan ia dinyatakan tidak terlibat atau tidak bersalah, sehingga ia mesti dibebaskan.

Pada tahun 1949 tepatnya bulan Februari Tan Malaka hilang tak tentu rimbanya, mati tak tentu kuburnya di tengah-tengah perjuangan bersama Gerilya Pembela Proklamasi di Pethok, Kediri, Jawa Timur. Tapi akhirnya misteri tersebut terungkap juga dari penuturan Harry A. Poeze, seorang Sejarawan Belanda yang menyebutkan bahwa Tan Malaka ditembak mati pada tanggal 21 Februari 1949 atas perintah Letda Soekotjo dari Batalyon Sikatan, Divisi Brawijaya.

Prof. Mohammad Yamin, dalam karya tulisnya "Tan Malaka Bapak Republik Indonesia" memberi komentar: "Tak ubahnya daripada Jefferson Washington merancangkan Republik Amerika Serikat sebelum kemerdekaannya tercapai atau Rizal Bonifacio meramalkan Philippina sebelum revolusi Philippina pecah…." 


Bapak Bangsa yang Terlupakan

 

TAN MALAKA

Dibanding Soekarno, Hatta, Soedirman, atau pahlawan nasional lain, nama Tan Malaka bukanlah apa-apa. Dia tidak terlalu dikenal publik. Dulu, tiap orang termasuk mahasiswa yang mengagumi perjuangannya bahkan harus berhadapan dengan aparat. Bagi penguasa Orde Baru (Orba), Tan Malaka adalah momok. Setiap orang yang mengaguminya harus dicurigai Empat tahun sebelum terjadi Sumpah Pemuda, enam tahun sebelum Hatta menulis brosur “Mencapai Indonesia Merdeka” pada 1930, atau bahkan delapan tahun sebelum Soekarno menulis brosur “Ke Arah Indonesia Merdeka” pada 1932, Tan Malaka telah menulis “Naar de Republik Indonesia” yang berarti “Menuju Republik Indonesia”. Ketika tulisan tersebut muncul, belum pernah ada tulisan yang mengulas cita-cita kemerdekaan Indonesia. Artinya, Tan Malaka adalah pemikir dan pejuang politik pertama di Indonesia yang mengajukan konsep negara Republik Indonesia (RI).

Namun, terlalu sedikit orang yang mengerti tentang Tan Malaka. Subjektivitas plus politisasi sejarah ala Orba membuahkan gambaran gelap tentang peran Tan Malaka bagi perjuangan republik ini. Akhirnya, Diponegoro, Imam Bonjol, Soekarno, Hatta, Soedirman, dan sederet nama pahlawan nasional lain juga lebih glamour dibanding Tan Malaka. Di antara nama-nama tersebut, Tan Malaka bukanlah apa-apa.
Tan Malaka adalah sosok misterius pada kancah pahlawan nasional. Bahkan keberadaannya tergolong kontroversial. Seorang muslim taat yang turut melahirkan Partai Komunis Indonesia, yang dikenal sebagai partai orang-orang atheis. Seorang pendukung Soekarno untuk menjadi presiden pertama RI, namun dia adalah orang pertama yang melawan ketika Soekarno mulai menerapkan demokrasi terpimpinnya.

Lalu apa menariknya membicarakan Tan Malaka saat ini? Hal yang pasti adalah bahwa Tan Malaka berjuang tanpa pamrih. Dalam sejarahnya, Tan Malaka tak pernah menduduki jabatan-jabatan birokrat, seperti Soekarno ataupun Hatta. Perjuangan politik Tan Malaka lebih diwarnai pembangkangan terhadap penguasa. Demikian juga, kehidupannya bahkan lebih terkenal dari penjara ke penjara. Ketika zaman imperialisme Belanda, dia harus mendekam di penjara. Ketika Jepang berkuasa, dia harus dipenjara, bahkan ketika Indonesia telah merdeka pun Tan Malaka harus dipenjara. Dia selalu jadi pembangkang penguasa. Perjuangannya tidak pernah diakhiri suatu jabatan publik. Nyaris tanpa pamrih. “Siapa ingin merdeka, harus berani di penjara,” teriaknya. Bahkan, ketika telah mati pula, Tan Malaka harus menjadi nama yang terpenjara.