Senin, 19 Desember 2011

Mengenal Sosok , "Bapak Bangsa Yang Terlupakan"

Ternyata Bapak bangsa yg satu ini narsis juga yaa hhehe
Tan Malaka lahir di Pandan Gading-Sumatra Barat, tahun 1897. Pendidikan yang ditempuhnya: Sekolah Dasar di Suluki, Sekolah Guru di Bukittinggi dan Sekolah Guru Haarlem Belanda. Semasa di Sekolah Guru di Belanda, ia menonjol dalam ilmu pasti sehingga guru-gurunya kerap memberi pujian. Selanjutnya, Tan Malaka lebih memberi perhatian pada kemiliteran.

Saat berumur 16 tahun, 1912, Tan Malaka dikirim ke Belanda. Tahun 1919 ia kembali ke Indonesia dan bekerja sebagai guru disebuah perkebunan di Deli. Ketimpangan sosial yang dilihatnya di lingkungan perkebunan, antara kaum buruh dan tuan tanah menimbulkan semangat radikal pada diri Tan Malaka muda. Tahun 1921, ia pergi ke Semarang dan bertemu dengan Semaun dan mulai terjun ke kancah politik

Pada tahun 1921 Tan Malaka telah terjun ke dalam gelanggang politik. Dengan semangat yang berkobar dari sebuah gubuk miskin, Tan Malaka banyak mengumpulkan pemuda-pemuda komunis. Pemuda cerdas ini banyak juga berdiskusi dengan Semaun (wakil ISDV) mengenai pergerakan revolusioner dalam pemerintahan Hindia Belanda. Selain itu juga merencanakan suatu pengorganisasian dalam bentuk pendidikan bagi anggota-anggota PKI dan SI (Sarekat Islam) untuk menyusun suatu sistem tentang kursus-kursus kader serta ajaran-ajaran komunis, gerakan-gerakan aksi komunis, keahlian berbicara, jurnalistik dan keahlian memimpin rakyat. Namun pemerintahan Belanda melarang pembentukan kursus-kursus semacam itu sehingga mengambil tindakan tegas bagi pesertanya.

Melihat hal itu Tan Malaka mempunyai niat untuk mendirikan sekolah-sekolah sebagai anak-anak anggota SI untuk penciptaan kader-kader baru. Juga dengan alasan pertama: memberi banyak jalan (kepada para murid) untuk mendapatkan mata pencaharian di dunia kapitalis (berhitung, menulis, membaca, ilmu bumi, bahasa Belanda, Melayu, Jawa dan lain-lain); kedua, memberikan kebebasan kepada murid untuk mengikuti kegemaran mereka dalam bentuk perkumpulan-perkumpulan; ketiga, untuk memperbaiki nasib kaum miskin. Untuk mendirikan sekolah itu, ruang rapat SI Semarang diubah menjadi sekolah. Dan sekolah itu bertumbuh sangat cepat hingga sekolah itu semakin lama semakin besar.

Perjuangan Tan Malaka tidaklah hanya sebatas pada usaha mencerdaskan rakyat Indonesia pada saat itu, tapi juga pada gerakan-gerakan dalam melawan ketidakadilan seperti yang dilakukan para buruh terhadap pemerintahan Hindia Belanda lewat VSTP dan aksi-aksi pemogokan, disertai selebaran-selebaran sebagai alat propaganda yang ditujukan kepada rakyat agar rakyat dapat melihat adanya ketidakadilan yang diterima oleh kaum buruh.

Pada Juni 1927 di Bangkok Thailand, bersama Soebakat dan Djamaludddin Tamin, Tan Malaka memproklamasikan berdirinya Partai Republik Indonesia (PARI). Dua tahun sebelumnya Tan Malaka telah menulis "Menuju Republik Indonesia". Itu ditunjukkan kepada para pejuang intelektual di Indonesia dan di negeri Belanda. Terbitnya buku itu pertama kali di Kowloon, Hong Kong, April 1925.

Antara tahun 1942-1943, ia menulis "Madilog" (Materialisme, Dialog, Logika) yang menyuguhkan gagasan Tan Malaka mengenai cara berpikir baru untuk memerangi cara berpikir lama (dipengaruhi tahayul atau mistik yang menyebabkan orang menyerah secara total kepada alam).

Pada awal bulan September 1945, Tan Malaka mengunjungi Soekarno di rumah dokter pribadinya, dr. Soeharto. Dalam percakapan yang disaksikan oleh Sajuti Melik, Tan Malaka mendesak Presiden untuk mengundurkan diri ke pedalaman untuk mengatur perlawanan bersenjata yang lebih efektif.

Hasil percakapannyanya dengan Tan Malaka itu membuat Soekarno terkesan sehingga Soekarno menyatakan jika terjadi sesuatu dengan dirinya maka Tan Malaka mengambil alih segala tanggung jawabnya. Penjelasan Soekarno tersebut kemudian diceritakan Tan Malaka kepada kawannya, Soebardjo, yang mana kemudian mereka berdua berinisiatif membuat surat wasiat.

Surat wasiat tersebut segera mengalami kadaluarsa ketika Jenderal Christison menjamin bahwa Inggris akan menghormati pemerintahan Soekarno dan membuka jalur perundingan dengan pihak sekutu dan Belanda

Pemikiran dialektiknya terlihat dari sikapnya yang mempertentangkan golongan tua (Soekarno-Hatta) dengan golongan muda (pemuda pejuang). Ia sinis terhadap golongan tua yang mau bekerja sama dengan golongan penjajah, sekaligus menaruh harapan pada golongan muda sebagai ujung tombak perjuangan. Meski Tan Malaka sinis terhadap golongan tua (Soekarno-Hatta), namun ketika pemerintah di bawah kepemimpinan Soekarno-Hatta tetap mengapresiasi perjuangannya.

Tahun 1946, ia ditangkap dengan tuduhan menggerakan rakyat menentang Persetujuan Linggarjati, antara Belanda dan Indonesia. Tidak lama kemudian ia juga dituduh terlibat dalam peristiwa 3 Juli 1946, yakni peristiwa kudeta terhadap pemerintah. Namun dalam pengadilan ia dinyatakan tidak terlibat atau tidak bersalah, sehingga ia mesti dibebaskan.

Pada tahun 1949 tepatnya bulan Februari Tan Malaka hilang tak tentu rimbanya, mati tak tentu kuburnya di tengah-tengah perjuangan bersama Gerilya Pembela Proklamasi di Pethok, Kediri, Jawa Timur. Tapi akhirnya misteri tersebut terungkap juga dari penuturan Harry A. Poeze, seorang Sejarawan Belanda yang menyebutkan bahwa Tan Malaka ditembak mati pada tanggal 21 Februari 1949 atas perintah Letda Soekotjo dari Batalyon Sikatan, Divisi Brawijaya.

Prof. Mohammad Yamin, dalam karya tulisnya "Tan Malaka Bapak Republik Indonesia" memberi komentar: "Tak ubahnya daripada Jefferson Washington merancangkan Republik Amerika Serikat sebelum kemerdekaannya tercapai atau Rizal Bonifacio meramalkan Philippina sebelum revolusi Philippina pecah…." 


Bapak Bangsa yang Terlupakan

 

TAN MALAKA

Dibanding Soekarno, Hatta, Soedirman, atau pahlawan nasional lain, nama Tan Malaka bukanlah apa-apa. Dia tidak terlalu dikenal publik. Dulu, tiap orang termasuk mahasiswa yang mengagumi perjuangannya bahkan harus berhadapan dengan aparat. Bagi penguasa Orde Baru (Orba), Tan Malaka adalah momok. Setiap orang yang mengaguminya harus dicurigai Empat tahun sebelum terjadi Sumpah Pemuda, enam tahun sebelum Hatta menulis brosur “Mencapai Indonesia Merdeka” pada 1930, atau bahkan delapan tahun sebelum Soekarno menulis brosur “Ke Arah Indonesia Merdeka” pada 1932, Tan Malaka telah menulis “Naar de Republik Indonesia” yang berarti “Menuju Republik Indonesia”. Ketika tulisan tersebut muncul, belum pernah ada tulisan yang mengulas cita-cita kemerdekaan Indonesia. Artinya, Tan Malaka adalah pemikir dan pejuang politik pertama di Indonesia yang mengajukan konsep negara Republik Indonesia (RI).

Namun, terlalu sedikit orang yang mengerti tentang Tan Malaka. Subjektivitas plus politisasi sejarah ala Orba membuahkan gambaran gelap tentang peran Tan Malaka bagi perjuangan republik ini. Akhirnya, Diponegoro, Imam Bonjol, Soekarno, Hatta, Soedirman, dan sederet nama pahlawan nasional lain juga lebih glamour dibanding Tan Malaka. Di antara nama-nama tersebut, Tan Malaka bukanlah apa-apa.
Tan Malaka adalah sosok misterius pada kancah pahlawan nasional. Bahkan keberadaannya tergolong kontroversial. Seorang muslim taat yang turut melahirkan Partai Komunis Indonesia, yang dikenal sebagai partai orang-orang atheis. Seorang pendukung Soekarno untuk menjadi presiden pertama RI, namun dia adalah orang pertama yang melawan ketika Soekarno mulai menerapkan demokrasi terpimpinnya.

Lalu apa menariknya membicarakan Tan Malaka saat ini? Hal yang pasti adalah bahwa Tan Malaka berjuang tanpa pamrih. Dalam sejarahnya, Tan Malaka tak pernah menduduki jabatan-jabatan birokrat, seperti Soekarno ataupun Hatta. Perjuangan politik Tan Malaka lebih diwarnai pembangkangan terhadap penguasa. Demikian juga, kehidupannya bahkan lebih terkenal dari penjara ke penjara. Ketika zaman imperialisme Belanda, dia harus mendekam di penjara. Ketika Jepang berkuasa, dia harus dipenjara, bahkan ketika Indonesia telah merdeka pun Tan Malaka harus dipenjara. Dia selalu jadi pembangkang penguasa. Perjuangannya tidak pernah diakhiri suatu jabatan publik. Nyaris tanpa pamrih. “Siapa ingin merdeka, harus berani di penjara,” teriaknya. Bahkan, ketika telah mati pula, Tan Malaka harus menjadi nama yang terpenjara.



Senin, 12 Desember 2011

Cerita Tentang Ganja

Daun ganja, tersebar di 2/3 permukaan bumi menjadikannya sebagai salah satu tanaman yang paling mudah tumbuh di mana mana.Tidak ada 1 pun produk di muka bumi ini, yang tidak bisa dibuat oleh ganja.

Sejak dulu, pelaut menggunakan serat ganja untuk tali temali mereka, pakaian, layar, dll
Daun ganja adalah tanaman yang paling dimanfaatkan diseluruh muka bumi, hingga tahun 1930.Apa yang terjadi tahun 1930? Amerika, krisis ekonomi parah.

Dalam kondisi tersebut, mereka harus mengembalikan kondisi keuangan mereka. Saat itu, Amerika mengembangkan serat sintetis.Serat sintetis ini, diproduksi dengan teknologi manufaktur yang saat itu hanya dimiliki Amerika. Sialnya, karakteristik dan kualitasnya serupa dengan serat dari daun ganja. Sementara daun ganja, tidak perlu menggunakan teknologi rumit untuk pemanfaatannya. Singkatnya, dagangan amerika, jeblok.

Amerika, kemudian mengeluarkan larangan terhadap tanaman Ganja dan merupakan negara pertama dalam sejarah yang melakukan pelarangan tersebut. Pelarangannya dikaitkan dengan isu ras, dengan melemparkan kabar bahwa ganja yang dihisap akan membuat budak budak kulit hitam beringas. Larangan ini disebarkan ke seluruh dunia.

Tidak lama, Amerika menjilat ludah sendiri ketika mereka memasuki Perang Dunia ke 2. Kemampuan produksi serat sintetis mereka tidak bisa mencukupi kebutuhan perang. Akhirnya, mereka kembali menggunakan serat ganja untuk seragam, tas, tali temali, parasut, dll.

Setelah Perang Dunia 2, black campaign Amerika terhadap ganja menggunakan metoda yang berbeda. Mereka mulai menyebarkan info bahwa Ganja bikin bodoh, bikin ketergantungan. Lewat PBB, mereka menyebar luaskan propaganda ini.

Ini menjawab tanda tanya besar “Mengapa sebuah tanaman yang dimanfaatkan di seluruh dunia selama ribuan tahun tiba tiba bisa jadi sesuatu yang jahat?”. Karena ulah Amerika di atas tadi.Apakah pemanfaatan ganja bisa mengejar Millenium Development Goals? Bisa menekan angka kemiskinan? Bisa.Dan sudah terbukti.Di mana? Cina.

Cina, tidak menyetujui ganja untuk dihisap, tapi memanfaatkan daun ganja untuk industri.
Industri untuk apa? Untuk apa saja.

Industri pakaian, serat ganja adalah serat pakaian kualitas terbaik makanya dipakai untuk baju perang dan parasut.Industri kendaraan (Henry Ford yang melihat minyak bumi akan kelak habis mengembangkan kendaraan yang tubuhnya terbuat dari serat ganja dan jaland engan biofuel dari ganja).Industri medis, tercatat daun ganja dimanfaatkan jadi bagian dari pengobatan alzheimer, glaukoma, HIV/AIDS, Asma, kanker, Distonia, Epilepsi, Tuberkulosis, Sindrom Tourette, Osteoporosis, Kardiovaskular, Diabetes, dan masih banyak lagi penyakit yang kalau saya sebut akan sangat menyita tulisan ini. Ketika Amerika berencana menghentikan ganja medis, diprotes keras. Oleh kalangan dokter :).

Industri kertas,  sekedar mengingatkan “Declaration Of Independence” Amerika serikat ditulis di atas hemp. Varian ganja untuk industri. 97% buku yang dicetak antara tahun 1900 – 1937  (waktu masih pakai ganja) masih kuat sampai 300-400 tahun sementara kertas dari serat kayu bertahan rata rata hanya selama 50 tahun. Untuk membuat kertas dengan jumlah yang sama, kertas dari serat pohon akan memakan lahan hutan lebih luas daripada kertas dari serat ganja.Ada banyak sekali pemanfaatan daun ganja untuk industri yang sudah digunakan dengan lazim oleh negara lain KECUALI oleh Indonesia.

****
Tulisan di atas gue kutip dari tulisan pandji,dia adalah salah seorang yang mendukung legalisasi ganja.Sampai ribut di twitter gara-gara doi bilang "Semua oang pernah nyimeng,SBY pun mungkin pernah nyimeng".

Masih banyak perdebatan tentang ganja di Indonesia.
Masih banyak dari kita yang belum tahu ganja itu sebenarnya apa,dan gue pun belum mengetahui semuanya.
Tapi,persepsi gue,mungkin aja salah.
Ganja buat berhalusinasi.Mereka yang senang “berhalusinasi” tersebut merupakan orang-orang yang merasakan himpitan yang sangat berat di dada mereka. Takut melihat dan menghadapi kenyataan yang memang akan terasa berat bagi meraka yang enggan menggunakan akalnya dan cenderung mengagungkan hawa nafsunya. 

Mereka sebenernya ingin meraih kebahagian, namun mereka gak siap tuk menjalani prosesnya yang memang membutuhkan kerja keras. Mereka cenderung memilih jalan pintas dengan hanya berangan-angan, memenuhi setiap sudut rongga kepalanya dengan khayalan-khayalan semu yang mereka sebut “Kreativitas”. Dan Mengkonsumsi ganja adalah salah satu cara yang efektif tuk menciptakan kondisi seperti itu. Mereka takut berjalan diatas alam sadar. Mereka cenderung memilih hidup di alam-alam mimpi mereka. Berhalusinasi, beranga-angan, melambungkan khayalnya setinggi langit seolah-olah kaki mereka sudah tidak menginjak tanah di bumi ini lagi. Tapi begitupun mereka gak akan pernah mengakui klo mereka dalam keadaan tidak sadar. Karena mereka sendiri sudah kehilangan definisi dari kata “Sadar” itu sesungguhnya. 

Mereka terlalu sayang dengan otak mereka sehingga mereka jarang mengaktivasi jaringan-jaringan otak mereka dengan harapan otak mereka akan senantiasa baru. Mereka lebih memilih nyantai merelaksasikan sel-sel otak mereka daripada menggunakan sel-sel otak tersebut bekerja keras tuk menyimpan data, mengelolah data, berpikir tuk menghasilkan solusi bagi masalah yang sedang atau mungkin akan dihadapinya. Mereka akan cenderung mencari alibi, dalih, dan alasan yang tujuannya gak lebih tuk digunakan sebagai pembenaran dan legalisasi kebiasaan yang gak pernah diharapkan oleh para orang tua mereka. Sebagai contoh mereka berharap ganja dilegalkan dengan menjadikan media industri dan medis sebagai alasan dan alibi mereka. Mereka dengan vokalnya menyerukan slogan-slogan tersebut seolah-olah merekalah para pelaku industri dan pelaku medis yang akan mengembangkan ganja menjadi sesuatu yang bermanfaat selain nyimeng. Ini adalah salah satu bukti mereka belum bisa membedakan mana kenyataan dan mana angan-angan. Mereka hanyalah para pemakai ganja, cimengers, halusinator, junkies. Namun mereka berkhayal, berangan-angan, serta berhalusinasi sebagai para pakar dunia industri dan ahli medis.

Hah,…. ngimpi kali yeeee !!! Bangun cuy,…. Tapi tetep mereka yakin klo mereka masih dalam keadaan sadar. Ironi ya ? Ckckck,… 

Dan hanya ketika seseorang menggunakan akalnya, pada saat itulah seseorang itu dianggap sadar. Dan Coba tanyakan pada mereka, para kaum junkies, apakah mereka sanggup dan rela tuk menghentikan atau meninggalkan kebiasaan nyimeng tsb ? 99,9% jawaban mereka gue pastikan adalah “tidak”. 

Ya,… mereka tidak akan sanggup dan rela tuk menghentikan atau meninggalkan kebiasaan nyimeng mereka. Lalu, jika mereka tidak sanggup utk itu, apa yang bisa kita harapkan pada mereka yang bersikap seolah-olah merekalah para pelaku industri dan para pelaku medis yang menjanjikan sesuatu yang baru dari ganja ? Mindset yang ada di otak mereka hanyalah jalan pintas. Maka industri yang dapat mereka janjikan hanyalah gak lebih dari industri lintingan ganja siap hisap dengan skala besar. Dan produk medis yang mereka bisa hadirkan gak lebih dari potongan daun ganja kering yang siap menenangkan dan merelaksasi sel2x otak mereka dengan inovasi di bagian kemasan tentunya.

Hah,…… Orang-orang ini yang kita ajak berdebat ? Buang waktu. lebih baik kita melindungi orang-orang terdekat kita agar tidak masuk ke dalam perangkap para bandar ganja dan antek-anteknya yang “MUNGKIN” hadir diantara mereka. Gue memberi string pada mungkin karena gue gak ingin berburuk sangka dengan anda-anda yang gencar menyuarakan legalisasi ganja. Karena mungkin dan skali lagi mungkin sebagian dari anda hanyalah korban liberalisasi berpikir dan belum ke tahap penikmat lintingan daun ganja kering. Semoga apa yang gue uraiankan disini dapat menjadi setitik embun yang akan mengembalikan kejernihan berpikir anda semua.  

Bangkit Indonesiaku TANPA GANJA !


Jumat, 02 Desember 2011

Masalah Cara dan Waktu

Banyak yang ngebandingin sesuatu yang jaraknya sangat jauh.
Berawal dari obrolan tadi siang bersama seorang teman,yang pesimis dia kuliah di UR. Dia membandingkan UR dengan kampus yang menolak cinta gue,gajah mada.hehehhehe. Gue gak nyalahin dia,itu hak dia.Wajar.

DON'T COMPARE UR TO OTHERS,IT'S NOT FAIR IT'S NOT AN APPLE TO APPLE COMPARISON.

UGM adalah universitas pertama yang didirikan di Indonesia. Udah lama membangun pondasi yang sekarang udah kuat,udah bagus.Fasilitas yang memadai.Dosen yang berkualitas. Udah banyak lahir orang-orang jenius disana.Sebenarnya orang jenius itu gak ada,dia hanya bekerja keras.hehehhe.Mungkin dulu UGM seumuran UR seperti ini juga.

UR adalah universitas entah keberapa, di Indonesia,gue gak tau.J auh banget sama umur UGM. Sekarang masih dalam tahap membangun sistem yang baik. Masih banyak kekurangan.Masih banyak yang perlu dibenahi.Jadi maklum kalo ada yang kurang senang kuliah disini.Tiap semester kita harus bermasalah sama Pengisian KRS ,salah satu contohnya.Fasilitas yang masih belum memadai.Tapi jangan karena fasilitas,kita membatasi diri kita.Itu bahaya.

Masalahnya kita cuma berpikir untuk mengeluh dan protes.IF WE DON’T LIKE WHAT WE SEE TODAY, WE CHANGE IT. WE MAKE IT HAPPEN.

Ini cuma masalah cara dan waktu.Wawasan akan menentukan keputusan.Kita sebagai mahasiswa harus punya integritas untuk menjadi manusia yang bermutu,tentunya didukung oleh dosen-dosen kita.Dosen juga harus punya integritas tinggi. Pola-pola yang buruk selama ini mari kita ubah dengan pola yang baik.Mungkin suatu saat,kita akan sama seperti UGM.Gue percaya.

Gue selalu bilang bahwa setiap orang bisa melakukan perubahan yang baik dengan menggunakan APAPUN yang dia punya.

Walaupun gue akui, sesuatu yang baik tidak akan tersebar secepat sesuatu yang buruk. Itulah mengapa, kita harus sama-sama kerja keras.Harus optimis.
Evil is controling time, we should not let ourselves be controled by time.
WE CONTROL OUR TIME.

Dengan niat,usaha,doa,bisa mencapai hasil yang maksimal.Semoga.